Kamis, 27 September 2012

Putaran Hati Ananda


Ini klasik untuk didengar
Kisah awam darah muda di rubik tenar
Titik cinta yang diberi berasa benar
Panah aprodite begitu nanar
Ananda memang anak kemarin sore yang sebentar
Denting hujan, laut dan batu besar
Menyusun alfabet yang bersinar
Tersemat dalam sel pusat yang terus berputar
Cinta ada saat ananda masih merah dan gemetar
Nanda takut purnama kan pudar
Itu salah satu kunci yang mengikar
Tapi makro detik membuat nanda tegar


Cinta Mereka


Dan jika ada hari dimana semua kembali
Mereka akan lebih bahagia dari sebelumnya
Melupakan sakit yang sebenarnya masih terasa
Dengan kebersamaan yang tidak terpisahkan
Lewat kesederhanaan gerak serta bahasa prosa

Harapan itu sering kali putih, abu-abu dan terkadang hitam
Merangkul setiap gemercik hujan yang turun akan memunculkan segenap rasa
Tenang dalam riuh, lembut walau deras, bahagia, pilu dan rindu
Lalu wanita itu akan menangis ditengah-tengahnya
Merasakan air mata di pipi yang serupa dengan air hujan
Tapi lebih hangat dan menyakitkan

Sulit bagi mereka membedakan omong kosong dengan janji yang tertunda
Kepercayaan besar sudah tertanam kokoh
Hanya saja terus digangu tumbuhnya benalu dan rumput liar
Tidak hidup...
Tidak mati...
Bukan duka...
Dan bukan pula suka...
Ini adalah cinta mereka...
Terhalang...


Kamus Besar Bahasa (Part I)


Aborsi                : Tindakan gegabah seorang perempuan yang sudah tidak perawan. Membuang hasil dari apa yang telah ia lakukan (dengan sengaja).

Asosial               : Sombong.

Rakyat               : Robot.

Rumah sakit       : Ada uang, ada dokter.

Demokrasi          : Gagasan yang mengutamakan peran serta rakyat dalam ikut andil mendukung jalannya pemerintahan. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk pemerintah.

Partai                  : Organisasi yang fasih dalam berpolitik (uang).

Pancasila            : Asas tunggal Republik Indonesia yang wajib dihapalkan, sunnah diamalkan.

Korupsi             : Suatu budaya khas Indonesia yang ingin ditiadakan, namun selalu gagal

Selasa, 18 September 2012

Kehidupan dan Idealisme


Kehidupan, terlalu banyak menuntut kesempurnaan yang sebenarnya terlalu dibuat buat. Latar belakang pendidikan dan status sosial, kini selalu menjadi tolak ukur penilaian atas kesempurnaan hidup. Lalu saya bertanya, dimana keberadaan berjuta ideologi sebelumnya? Mengapa kini semakin menyempit?
Bagi saya, keberadaan sekolah dan universitas adalah omong kosong ketika siswanya hanya bertujuan mendapat nilai A atau lulus dengan predikat Cum Laude. Kenapa tujuan mereka di akhir? Kenapa tidak prosesnya itu yang menjadi tujuan?  Yaitu, belajar dan mencari ilmu!
Saya pernah bertanya pada seorang teman dari Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2005 yang sampai saat ini belum menyelesaikan skripsinya. “Lo kenapa Bang gak ngelarin skripsi lo? Gila ye betah banget di kampus. S1 kok tujuh tahun lebih! Haha.”
Sembari teretawa kecil dan menyelesaikan lukisannya beliau menjawab, “Gue lebih suka bertitle MAHASISWA Ta dibanding bertitle PENGANGGURAN! Propesi macam kita tuh (pelaku seni) tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan. Ya jadinya, kita ini PENGANGGURAN terus!”
Kali ini saya yang tertawa, bukan karena lucu, tapi karena saya menyetujui pernyataan beliau. Beliau orang yang cerdas, wawasannya luas, bahkan saya yakin jika beliau menyelesaikan skripsinya dan mengikuti sidang kelulusan, maka dengan mudah beliau akan lulus dengan menyandang predikat Cum Laude. Tapi itu belum menjadi pilihannya sekarang. Sampai saat ini, beliau masih asik menikmati kegiatan kampus tanpa memikirkan iming-iming title Sarjana.
Ijinkan saya berandai sejenak. Andai saya tidak hidup diperadaban yang meyakini bahwa latar belakang pendidikan menjadi tolak ukur sebuah pencapaian kesuksesaan, yap! mungkin dari awal saya akan memilih untuk tidak bersekolah formal. Karena saya menyadari, yang sedari awal saya dapatkan di sekolah, ternyata bisa saya dapati diluar sekolah. Bahkan lebih! Dan yang lebih penting, pelajaran yang saya dapat diluar sekolah tidak bertujuan mendapat nilai A, tetapi pasti mendapatkan nilai A!
Tapi itu hanyalah andai-andai. Nyatanya saya hidup pada peradaban dimana Ijasah-Ijasah menjadi sebuah barang berharga yang diburu banyak orang. Bahkan bagi yang sulit mendapatkannya, maka ia tidak ragu-ragu untuk memalsukan lembaran bodoh itu. Alasannya, agar mudah mendapat pekerjaan. Padahal sudah jelas-jelas begitu banyak orang yang memiliki Ijasah Strata satu tetapi masih menjadi PENGACARA alias PENGANGGURAN BANYAK ACARA. Ironi kan?
Baiklah, tak apa, saya tidak menyesali takdir yang mengantarkan saya pada jaman kalangkabutan macam ini. Saya akan mengikuti segala prosedur yang ada. Tapi saya juga punya jalan sendiri. Siapa yang sudi melewati jalan yang sudah padat? Saya punya jalan sendiri. Tanpa tekanan dan dengan terus menikmati, saya akan melewati jalan saya sendiri.
Setelah lulus (nanti), saya masih akan berjalan santai. Terus menulis, terus melukis, terus ber-acting. Lagi dan lagi. Itulah tujuan saya (see?? Bahkan saya sudah sampai tujuan saya). Karena inilah idealisme menurut nurani saya, yaitu hasrat untuk berseni! Inilah jalan saya.
Tanpa memperdulikan akan “jadi apa” saya kelak (bahkan saya rela disebut PENGACARA alias PENGANGGURAN BANYAK ACARA), saya akan terus berjalan disini. Karena saya menikmati perjalanannya!
Saya bukan seorang penulis, pelukis, atau bahkan pemain teater. Saya hanya menulis, melukis, dan memainkan sebuah peran diatas panggung. Terkadang saya bermusik, tapi saya bukan musisi. Sekali lagi, saya bukan penulis, pelukis, pemain teater atau musisi! Tetapi jika kelak predikat-predikat itu melekat pada saya, maka itu hanyalah sekedar efek-samping dari apa yang saya geluti.
Bagi mereka (kaum yang men-dewa-kan latar belakang pendidikan dan status sosial) teruslah kejar kesempurnaan hidup kalian yang belum terlihat itu. Saya tidak akan mengganggu apalagi menyalahi. Dan kami (penganut idealisme nurani), kami akan terus mengikuti hati nurani kami, tak perlu berkejaran, tapi sampai tujuan. Dan yang lebih penting, perjalanan kami sudah sangat sempurna dibanding kesempurnaan hidup kalian.
Bagaimana dengan anda? Ikut mereka atau ikut kami? Pilihlah jalan anda atau buatlah jalan sendiri!
Selamat menempuh perjalanan selajutnya kawan.     

Minggu, 02 September 2012

Mirasih


Mirasih kecil melihat sendiri buku tulisnya melayang di udara
Mendarat tepat di kakinya yang tidak bersepatu
Hatinya gemetar diperlakukan bagai anjing sirkus
Kemiskinan menjadikannya bagai berak yang bahkan najis untuk di injak
Gedung megah tempatnya menggantungkan sejuta harapan telah diisi oleh demit-demit penghianat masa depan

Setiap pagi Mirasih kecil berlari mengejar waktu
untuk menerobos gerbang sekolahnya
Pekerjaan rumah yang tidak selesai menjadi alasan si Jangkung melempar lagi buku tulis Mirasih pagi ini
Dan lalu ia berkata :
“Pemalas! Kau lihat buku tulismu yang tipis ini! Sama seperti otakmu yang tipis!”
Mirasih menitikan air mata
Dipungutnya buku tulis itu
“Ini buku tulis bekas saya, Pak. Saat saya duduk di kelas lima, buku ini tidak habis saya gunakan. Masih kosong setengah halaman. Lalu saya merobek halaman-halaman depan yang sudah terisi, agar buku tulis ini bisa saya gunakan lagi. Ibu saya tidak sanggup membelikan buku tulis yang baru. Bapak tidak perlu khawatir, halaman-halaman berisi catatan pelajaran yang saya robek tidak serta-merta saya buang. Itu saya simpan untuk belajar sewaktu-waktu.”
Lalu riuh tawa dari seisi kelas
Mirasih celingukan :
Rupanya dunia sudah kekurangan cerita humor

Dan samar-samar Mirasih mendengar si Jangkung mengumpat pelan “dasar miskin!”
Lagi-lagi Mirasih hanya bisa gemetar
Berak yang najis untuk di injak, bahkan kini asik dibuat mainan oleh si Jangkung berijasah S1

Pelayanan gratis macam apa yang disediakan oleh negara ini untuk rakyatnya yang miskin?
Atas dasar apa mereka membantu Mirasih?
Atas dasar kemanusiaan yang meningkatkan citra positif
Atas dasar kemanusiaan dengan imbalan nilai ekonomi
Atas dasar kemanusiaan sebagai katrol keberhasilan kampanye politik
Atas dasar kemanusiaan yang tidak manusiawi

Kini Mirasih telah dewasa
Kecerdasaannya pun luar biasa
Sampai disuatu pagi, di ruang yang sunyi
Teriak Mirasih menggelegar
“Ulangi skripsimu!! Kau tau? Kurikulum itu bukan belajar dan mengajar! Kurikulum itu majikan! Sama seperti aku dan si Jangkung!”

Jakarta, 25 Juli 2012

Kamis, 02 Agustus 2012

Teman Lama di Dunia Maya


Abis sketching, nyalain laptop, puter lagu-lagu Slank album yang lama, bikin kopi, colokin modem, browsing plus searching sambil ngopi : tiga puluh menit, satu jam, dua jam, empat jam. Kopi abis. Bete. Liat jam, udah jam 02.00 WIB, belom ngantuk, buka YM, gak ada yang asik. Buka facebook, baca-baca note Hidayat Ari (sahabat pena di pesbuk), dan tiba-tiba......

J             : Ta!
Gue        : Siapa ya?
J             : Hayo siapa?
Gue        : Sori gak kenal
J                         : Buset juteknya nonaaaaa... inget-inget deh....
Gue        : Males
J             : Gue Jaka, Taaaaaaaaaaaaaaaa... temennya Ihsan, mantan lo yang gila itu. haha. Sombong banget lo. Inget dulu lo suka ngajakin gue cabut sekolah kaaan? Haha.
______________Jaka mana ya??? Hmmm.... Aha!!!!______________
Gue        : Ohhh.. hahaha. Iya-iya inget. Sori PP lo gak jelas. Nama FB lo juga gak gue kenal.
J             : Kan ada foto-foto laen yang lebih jelasnya. Kalo nama FB, itu kan nama asli gue. Lagian ada Jaka-Jakanya juga kan? Lo aja gak ngeh.
Gue        : Males juga ngeliatin foto orang.
J             : Setuju. Apalagi orangnya gue. haha. Apa kabar lo?
Gue        : Baik. Lo?
J             : Alhamdulilah baik juga. Kuliah dimana? Apa kerja Ta?
Gue        : Kuliah di BSI. Lo sendiri? Si Ihsan apa kabarnya tuh?
J             : Cieeeeeeeeee... nanyain... haha. Masih cinta ta?haha
Gue        : Dih. Gue tuh gak pernah jadian kali sama dia. Dia aja yang suka ngenalin gue sebagai ceweknya ke orang-orang. Namanya juga orang edan. Kambing dibedakin juga dibilang ceweknya dah pasti. Haha. Udah lama juga gak denger kabarnya, sejak lulus SMA kayaknya gak pernah lagi ketemu dia. Udah jadi ustad?
J             : Haha, tau kok tau. Gue tau tabiat dia. Hei, gak semua lulusan madrasah jadi ustad kali. Haha. Gue gak tau, gue juga udah lama gak denger kabar dia.
Gue        : Lah, lo kan temennya?
J             : Iya sih. Tapi lo pernah kan punya temen SMA dan lo gak berhubungan lagi sama dia setelah lo lulus? Alesannya karena lo sudah terlalu sibuk dengan lingkungan baru lo, atau temen lo itu yang menghilang dengan alasan serupa? Iya kan? Itung deh berapa biji temen SMA lo yang sekarang masih berhubungan intens sama lo.
Gue        : Hahaha setuju.
J             : Singkat dan jelas. Pasti bukan anak sastra.
Gue        : Sok tau banget sumpah. Haha. Tapi bener sih. Gue anak Ibu.
J             : Haha. Gue juga anak Ibu, kita sodara berarti. Oia kuliah lo jurusan apa?
Gue        : Advertising. Lo? Sastra?
J             : Haha kagak. Gue ilmu politik
Gue        : di?
J             : IISIP kampus tercinta haha
Gue        : Emang ada ilmu politik disana? Calon pejabat negara nih.
J             : Ada, ta.... haha males gila. Gue gak mau duduk ditempat dimana kesempatan gue untuk korupsi sangat besar.
Gue        : Terus mau jadi apa? Yeee.. asal jangan niat korupsi aja kali.
J             : Entahlaaah.. gue juga gak ngerti kenapa gue waktu itu tertarik banget masuk fakultas ilmu sosial dan politik gini. Dan lebih parah lagi gue juga gak terlalu sadar kalo gue ternyata ngambil jurusan ilmu politik. Iya, tapi setan selalu tanpa bosen membujuk manusia-manusia, bahkan yang gak niat sekalipun. HAHAHAHA. *ketawa setan
Gue        : ‘Gak terlalu sadar’? Hahahahahahaha.
J             : Kurang lebih. Tapi seenggaknya gue gak nyesel. Jadi pengamat politik kayaknya asik juga lho. Hehe. Setuju?
Gue        : Nggak. Gue lebih suka jadi kritikus politik. Khususnya buat Indonesia. Hihi.
J             : Naaaaah. Mengamati dan lalu mengkritik. hahaha. Apa mindset lo tentang politik?
___________ih, saik. Gue selalu suka orang yang membuka topik pembicaraan yang gak ‘tonk kosong’___________
Gue        : Politik tidak punya kepala, tidak punya telinga, tidak punya hati.
J             : Politik hanya mengenal kalah dan menang, kawan dan lawan, peradaban yang dangkal. Begitu kan? Haha
Gue        : Wait! Bait terusannya tuh.. haha. Maskumambang! Wuih, nemu satu lagi nih penggemar Rendra. Hehe.
J             : Hahaha. Nggak kok nggak. Kebetulan gue pernah bawain sajak itu waktu ada acara dikampus. Makanya apal.
Gue        : Gue beberapa kali membacakan sajak dari para penyair tersohor, tapi gak serta merta apal. Hehehe
J             : Hahaha banyak-banyak minum air zam-zam biar ingetannya kuat. Lagian gue juga gak apal sajak itu kok. Cuma bait yang itu aja yang gue inget.
Gue        : Haha. Sial! Terus politik menurut lo?
J             : Hmmm bisa dua bab kalo gue ngomongin politik. Eh, tadi kata lo pernah beberapa kali bawain sajak? Maksudnya?
Gue        : Wah, anda berbakat jadi kuli tinta! Haha. Ya bacain sajak orang.
J             : Bukannya gitu, hanya saja sulit untuk menyederhanakan definisi politik itu sendiri. Iyaaaaa pahaam gue, maksudnya bacain sajak dimana? -___-
Gue        : Oh, hahaha. Ya dibeberapa pagelaran dan pertunjukan seni gitu deh. Ah terus gimana politik menurut lo? Garis besarnya deh.
J             : Wah, jadi malu tadi nyebut lo “PASTI BUKAN ANAK SASTRA”. Haha. Hmmm, oke, terlepas dari segala mata kuliah ilmu politik yang gue dapet, politik menurut gue adalah tatanan kebijakan negara yang diolah dengan otak dan diatur dengan uang.
____________*manggut-manggut. (kayaknya cerdas nih orang)____________
Gue        : Uang mengatur segalanya Bung... hehe. Emang bukan anak sastraaaa. Cuma pelaku seni kacangan.
J             : Bung Jaka? Kayaknya keren tuh! Haha. Seniman dong lo, Ta? Mantaaab! Gue tambahin, dan uang itu memperdaya segalanya! Hehe
Gue        : Membeli segalanya!
J             : Membeli bubur!
Gue        : Membeli berlian!
J             : Membeli batu kali!
Gue        : Membeli rumah!
J             : Membeli impian!
Gue        : Membeli nasib!
J             : Membeli behel warna warni!
Gue        : Membeli kutang dan celana dalam!
J             : Membeli isi kutang dan isi celana dalam!
Gue        : -______-
J             : Hahahaha. Bawa-bawa kutang sih!
Gue        : Tapi memang itulah uang.. segalanya bisa dibeliiii... Hehe. Jadi pengen punya uang banyaaaaaaaaaaaaak banget dah! Haha. *iyalah, siapa yang gak mau uang? Haha
J             : Hahaha. Emang apa yang mau lo beli?
Gue        : Apa ya? Hmmm.. Membeli cinta. Hahaha.
J             : Hahaha. Semu dong nanti cintanya?
Gue        : Gpp, toh semua yang ada didunia ini semu. Seperti cintanya Summer Finn kepada Tom Hansen. Semu.
J             : Hahaha dasar seniman! otaknya liar!
Gue        : Dih, ngapa jadi lari ke seniman lagi? Gue bukan senimaaaaan. Tapi pelaku seni kacangan.
J             : Namanya pelaku seni ya seniman. Mau kacangan kek, mau berlianan kek. Tetep aja seniman. Sama hal-nya kayak siswa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi, mau bego kek, mau pinter kek, semuanya disebut mahasiswa.
Gue        : *kibarkan bendera putih
J             : Hahaha.. udah jam tiga nih. Gak tidur apa?
Gue        : Gue gak suka memutar balikan fakta. Tapi gue suka memutar balikan waktu tidur. (siang jadi malem, malem jadi siang) hahaha.
J             : Kampret!
Gue        : Jahat banget bahasa lo. Kalelawar kek gitu!
J             : Tadinya sih pengen bilang gitu, tapi takut lo malah ngebahas sajaknya Rendra lagi dah yang judulnya Kalelawar. Hahaha
Gue        : Ampuuuuun... tuh ini mah elo yang seniman! haha. Kayaknya tau banyak tentang sajak deh elo. Ayo jujur sama gueeeeeeeeeeeeeee!!!!
J             : Hahahaha gue penikmat doang.
Gue        : Ah gak mungkin. Pasti terjun di seni juga nih. Yee kaaaan? Ayolah jujur, asik nih nanti gue bisa banyak sharing sama lo. Hehehe.
J             : Ye batu! Dibilang gue penikmat doang. Semua orang suka musik, tapi gak semua orang musisi kan? Yeeeeeeeeeeeee...
Gue        : Terus? Kita kan gak ngomongin musik..... weeeeeeeeeeee...
J             : Kan itu hanya perumpamaan. Weeee... Gue penikmat karya-karya seni. Termasuk sajak. Eh, sajak itu karya seni kan? Apa karya sastra? Seniman sama sastrawan sama gak sih? Haha.
Gue        : Iyaa deh iyaa. Hehee. Menurut gue, sastrawan itu pasti seniman. Tapi seniman gak selalu sastrawan. Karya sastra itu karya seni. Tapi karya seni itu gak selalu berupa karya sastra. Hahaha.
J             : Hahaha.iya iya bener. Seni mah universal banget ya..
Gue        : Persis! Terus apa yang lo nikmati? Hehe
J             : Wanita. Hahahahahhaha.
Gue        : Yeee.. ketek banci! Maksud gue karya seni apa yang lo nikmatin?
J             : Hahaha. Gue suka baca novel roman dan kumpulan puisi, gue suka bacaan yang berbau sastra deh pokoknya. Tapi gue juga open sih sama bacaan yang diluar sastra, kayak yang berbau politik dan budaya. Komik juga suka baca. Ah, apa aja dehh. Hehe
__________________Hobi baca... wawasannya luas berarti_______________
Gue        : Waw, selain baca?
J             : Gue suka musik, blues terutama. Tapi open juga sama gendre lainnya. Dangdut pun jadi. Asal yang syahdu. Haha.
Gue        : hahaha. Selain baca dan denger musik?
J             : Satu pertanyaan 20rb ya? Haha. Pertunjukan drama sama teater juga gue suka. Tapi jarang nonton sih. Tapi excited kalo udah nonton. Bawaannnya gak pengen pulang.
Gue        : Dih, Indonesia banget lo apa-apa di duitin hahaha. Terus siapa tokoh favorit lo di bidang seni ?
J             : Hmmm banyak, universal ya, dari eksistensi karya dan personalnya gue suka Sujiwo Tedjo, Chairil Anwar, Rendra, Iwan Fals, Djajang C Noer, Djoko Pekik. Ah, banyak deh.
Gue        : Djoko Pekik? Waaahh.. Penikmat lukisan juga? Luar biasa, biasa diluar. Haha.
J             : Ahhh.. lo mulu yang nanya. Gue ah gantian hahaha.  Nah kalo lo dan seni apa hubungannya?
Gue        : Hahaha hubungannya ‘IN RELATIONSHIP’
J             : Tuh. Kalo gue yang nanya gak pernah serius dah. Jawab ga! Gue sumpel nih mulut lo pake kaos kaki Flying Dutchman!
Gue        : Hahaha. Iya, gue penikmat juga, tapi juga masuk menjadi pelaku.
J             : Yaiyalah. Kalo melakukan tanpa menikmati apa jadinya? Haha. khususnya di bidang apa nih seninya?
Gue        : Hahaha. Bentul! Eh, betul! Apa ya? Masih belajar semua sih. Gue nulis sajak, teater juga, ngelukis juga, terus photografi, seni tari, musik juga (ngeband), kadang belaga gila jadi sutradara video klip. Haha. Dan sebagian besar sih emang hanya untuk melampiaskan hawa napsu berseni di diri gue aja. Gak ada yang gue tekunin banget-banget kayaknya. Hahaha.
J             : Eh, seorang ahli pun gak pernah berenti belajar kaliii... kenapa gitu? Tekunin dong..
Gue        : Iye pakkk.. haha. gak tau kenapa. Gue masih bingung yang mana yang bener-bener passion gue.
J             : Tapi lo suka semuanya? Ngelakuinnya dengan hati kan?
Gue        : Iyalah. Gue gak suka melakukan apa-apa dibawah tekanan.
J             : Nah, itu jawabannya. Semua berarti passion lo.
Gue        : Gila. Terlalu kompleks semuanya mah. Lagian gak ada yang bener-bener gue kuasain.
J             : Gak mungkin. Lo gak sadar aja. Kenali dulu diri lo.
Gue        : Jah, udah kenal kok, nama gue Ita Juwita hahaha.
J             : Kayaknya lo cocok jadi pelawak deh. Hahaha
Gue        : Kadang kepikiran sih. Haha.
J             : Nah, nah, Itu dia, Ta! cita-cita lo! Cita-cita lo apa? Apa kiranya propesi yang bakal jadi tujuan lo??
Gue        : Hmmm. Gue selalu memimpikan untuk jadi novelis, penulis sajak atau pelukis.
J             : Cakep! Itu dia yang bener-bener passion lo!
Gue        : Tapi gue gak pernah ngerasa punya nilai plus di ketiganya, Jak.. Just DREAM! Hahaha.
J             : Jak???? Jangan panggil gue ‘JAK’! You can call me ‘JACK’ dibaca ‘JEK’ ! kalo ‘Jak’ tar disangka nama gue Rojak lagi.. hahaha.
Gue        : Hahahahaha. Iye deh.. Jack. Captain Jack Sparrow. Hahaha.
J             : Cakep tuh ! Hahaha. Lo bilang lo gak punya nilai plus kan? Oke, gue anggap lo menghasilkan itu dengan nilai minus. Tapi lo bisa kan jadiin nilai minus lo ke nilai plus?? Belajar...
Gue        : Gak gampang juga kali, Boiiiiii....
J             : Kalo gampang gak usah belajar! Semua ahli dimulai dari belajar kok.
Gue        : Elo lebih cocok jadi motivator deh, jangan jadi pengamat politik. Hahaha.
J             : Berarti elo termotivasi dong dengan kata-kata gue??? asiiiiiiikkkk... salam super! *sambil melambaikan tangan memberi sejuta karisma.
Gue        : Dikit! Hahaha
J             : Yaudah, belajar!
Gue        : Kalo gue menyerah ditengah jalan atau gagal?
J             : Yah, mental cewek tomboi segini doang? Hahaha
Gue        : Hahahahahaha. Jangan bawa-bawa kepribadian!
J             : Usaha aja dulu, Ta. Kalo masa depan udah keliatan maka hari ini gak akan menarik lagi. Iya kan? Hehe.
Gue        : Hahahahahahahahahahaha.
J             : Mabok lo! Kenapa ketawa?
Gue        : Kata-kata itu sering gue ucapin kalo lagi nasehatin orang!!! hahahaha.
J             : Hahahaha. Sehati ya kita? Itu lo bisa nasehatin orang. Masa nasehatin diri sendiri gak bisa.
Gue        : Gampangan nasehatin orang tau! Haha. Eh pintu kamar gue udah diketok-ketok nyokap nih suruh saur. Gue off yeee..
J             : Yaaaah,, baru jam setengah 4, Ta... entar aja saurnya.
Gue        : Harus bareng sekeluarga nih. Adat keluarga. Hehehe.
J             : Yaah... nomor HP lo dong
Gue        : 08561222XXX
J             : Siaaaap.. Selamat berpolitik pangan dimeja makan.. haha
Gue        : Jah, Oke Tuan Parpol! Hahaha
J             : Haha. Putri Iklan!
Gue        : Sial

Offline... Matiin Laptop. Saur.

Biiip      
From      : 085774345XXX
Putri Iklan hahaha

To           : 085774345XXX
Hahaha saur lo.

Biiip
From      : 085774345XXX
Iya, cuma konfirmasi nomor dulu sebelum saur.

To           : 085774345XXX
Konfirmasi diterima Tuan

Great chat diwaktu begadang. Hahaha. Pencerahan banget, kayaknya bakal nambah nih satu temen sharing yang asik. Thanks Jaka.