Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2014

Gaduh Mengadu

Ranah tanah ego jauh tenggelam ke dasar
Aku terlupa untuk mengingat segala
Lantas semua mulai tak berurut
Tak menentu
Aku dikejar waktu
Lalu aku mengejarmu yg semakin menjauh
Aku berhenti, kamu menoleh, dan lagi-lagi berlari
Sedang nafasku masih terengah
Aku takut kamu pun lelah

Hujan lah, awan
Temani aku berair mata, Tuhan
Temani aku memeluk rindu, teman
Dan malam hinggap lagi, kawan
Aku makin nadir, bulan


Jakarta, September 2014

Senin, 09 Juni 2014

I Will be Silent

Aku sering melihatmu lewat dan berlalu
Di tengah malam yang syahdu
Saat langit abu-abu biru
Getarkan rindu yang pilu

Lupakan kita
Dengan alunan rangkuman nada
Aku diam tak terbata

Lihatlah ke udara

Selasa, 17 Desember 2013

WS Rendra - Sajak Cinta Ditulis Pada Usia 57

Setiap ruang yang tertutup akan retak
karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
Dan akhirnya akan meledak
bila tenaga waktu terus terhadang

Cintaku kepadamu Juwitaku
Ikhlas dan sebenarnya
Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

Cintaku kepadamu Juwitaku
Kemudian meruang dan mewaktu
dalam hidupku yang sekedar insan

Ruang cinta aku berdayakan
tapi waktunya lepas dari jangkauan
Sekarang aku menyadari
usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
Khazanah budaya percintaan…
pacaran, perpisahan, perkawinan
tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

Dan kini syairku ini
Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

Syair bermula dari kata,
dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
lepas dari daya korupsi manusia
Demikianlah maka syairku ini
berani mewakili cintaku kepadamu

Juwitaku
belum pernah aku puas menciumi kamu
Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
Kamu sulit menghadapi diri sendiri
Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
kamu takut kepada dunia

Juwitaku
Lepas dari kotak-kotak analisa
cintaku kepadamu ternyata ada
Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
di dalam kalbuku

Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

Cintaku kepadamu telah mewaktu
Syair ini juga akan mewaktu
Yang jelas usianya akan lebih panjang
dari usiaku dan usiamu

Bojong Gede, 17 Juli 1992


Sajak ini yang membuat aku makin jatuh cinta pada Alm. Rendra-ku. Entah, aku merasa si Burung Merak membidikku lewat tiap baitnya. Rendra, aku Juwita...... dan syairmu, benar adanya.

Jumat, 06 September 2013

Ketakutan

kala redam rontak sendiri dalam gelap
penantian tiada akhir
melamun membunuh hati

saat tiba cinta indah
kala bunga mulai mekar
musim yang tiba muram
mengganti dengan layunya

air mata berbaris
hati tertunduk
melihatmu pergi
berjalan menjauh
tingalkanku

ah..,
aku yang terlalu.

Sabtu, 02 Februari 2013

.......


Akan kemanakah angin melayang takala turun senja yang muram?
Kepada siapa lagu ku angankan?
Gelap dalam kabut
Rindu tertahan

Datanglah engkau, berbaring disisiku
Turun dan berbisik, dekati batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Ku ingin menjerit dalam pelukanmu

Sampai dimanakan berarak awan?
Bagi siapa mata ku pejamkan?
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan dihati bergetaran.....

Jumat, 09 November 2012

Kangen - WS Rendra

kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tidak akan mengerti bagaimana lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya
membayangkan wajahmu adalah siksa
kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
engkau telah menjadi racun bagi darahku
apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti aku tungku tanpa api

Senin, 22 Oktober 2012

Topeng

Sudah terlalu banyak hal imitasi di lataran bumi
Penuh menyibak kebohongan hati
Sembilan dari sepuluh tokoh hobi memerankan peran protagonis
Padahal dikehidupan seharinya mereka adalah antagonis

Dipinggir jalan aku melihat dan belajar mengenai semua
Termasuk katakter para pengguna topeng
Tapi aku tak mau serta merta menghakimi
Aku bukan Tuhan

Jakarta, Oktober 2012

Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta - W.S Rendra

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya


Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.




Kamis, 27 September 2012

Putaran Hati Ananda


Ini klasik untuk didengar
Kisah awam darah muda di rubik tenar
Titik cinta yang diberi berasa benar
Panah aprodite begitu nanar
Ananda memang anak kemarin sore yang sebentar
Denting hujan, laut dan batu besar
Menyusun alfabet yang bersinar
Tersemat dalam sel pusat yang terus berputar
Cinta ada saat ananda masih merah dan gemetar
Nanda takut purnama kan pudar
Itu salah satu kunci yang mengikar
Tapi makro detik membuat nanda tegar


Cinta Mereka


Dan jika ada hari dimana semua kembali
Mereka akan lebih bahagia dari sebelumnya
Melupakan sakit yang sebenarnya masih terasa
Dengan kebersamaan yang tidak terpisahkan
Lewat kesederhanaan gerak serta bahasa prosa

Harapan itu sering kali putih, abu-abu dan terkadang hitam
Merangkul setiap gemercik hujan yang turun akan memunculkan segenap rasa
Tenang dalam riuh, lembut walau deras, bahagia, pilu dan rindu
Lalu wanita itu akan menangis ditengah-tengahnya
Merasakan air mata di pipi yang serupa dengan air hujan
Tapi lebih hangat dan menyakitkan

Sulit bagi mereka membedakan omong kosong dengan janji yang tertunda
Kepercayaan besar sudah tertanam kokoh
Hanya saja terus digangu tumbuhnya benalu dan rumput liar
Tidak hidup...
Tidak mati...
Bukan duka...
Dan bukan pula suka...
Ini adalah cinta mereka...
Terhalang...


Minggu, 02 September 2012

Mirasih


Mirasih kecil melihat sendiri buku tulisnya melayang di udara
Mendarat tepat di kakinya yang tidak bersepatu
Hatinya gemetar diperlakukan bagai anjing sirkus
Kemiskinan menjadikannya bagai berak yang bahkan najis untuk di injak
Gedung megah tempatnya menggantungkan sejuta harapan telah diisi oleh demit-demit penghianat masa depan

Setiap pagi Mirasih kecil berlari mengejar waktu
untuk menerobos gerbang sekolahnya
Pekerjaan rumah yang tidak selesai menjadi alasan si Jangkung melempar lagi buku tulis Mirasih pagi ini
Dan lalu ia berkata :
“Pemalas! Kau lihat buku tulismu yang tipis ini! Sama seperti otakmu yang tipis!”
Mirasih menitikan air mata
Dipungutnya buku tulis itu
“Ini buku tulis bekas saya, Pak. Saat saya duduk di kelas lima, buku ini tidak habis saya gunakan. Masih kosong setengah halaman. Lalu saya merobek halaman-halaman depan yang sudah terisi, agar buku tulis ini bisa saya gunakan lagi. Ibu saya tidak sanggup membelikan buku tulis yang baru. Bapak tidak perlu khawatir, halaman-halaman berisi catatan pelajaran yang saya robek tidak serta-merta saya buang. Itu saya simpan untuk belajar sewaktu-waktu.”
Lalu riuh tawa dari seisi kelas
Mirasih celingukan :
Rupanya dunia sudah kekurangan cerita humor

Dan samar-samar Mirasih mendengar si Jangkung mengumpat pelan “dasar miskin!”
Lagi-lagi Mirasih hanya bisa gemetar
Berak yang najis untuk di injak, bahkan kini asik dibuat mainan oleh si Jangkung berijasah S1

Pelayanan gratis macam apa yang disediakan oleh negara ini untuk rakyatnya yang miskin?
Atas dasar apa mereka membantu Mirasih?
Atas dasar kemanusiaan yang meningkatkan citra positif
Atas dasar kemanusiaan dengan imbalan nilai ekonomi
Atas dasar kemanusiaan sebagai katrol keberhasilan kampanye politik
Atas dasar kemanusiaan yang tidak manusiawi

Kini Mirasih telah dewasa
Kecerdasaannya pun luar biasa
Sampai disuatu pagi, di ruang yang sunyi
Teriak Mirasih menggelegar
“Ulangi skripsimu!! Kau tau? Kurikulum itu bukan belajar dan mengajar! Kurikulum itu majikan! Sama seperti aku dan si Jangkung!”

Jakarta, 25 Juli 2012

Kamis, 07 Juni 2012

Aku tak Bisa Lagi Menyanyi - Gus Mus



Aku tak bisa lagi menyanyi
Bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk aku nyanyikan bersamamu atau sendiri
Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah mereka merdeka
Membuatku tak dapat lagi mengenali suaramu atau suaraku sendiri
Taman tempatku kita istirahat becek darah yang seharusnya tidak tumpah
Jalan-jalan tempat kita mendekatkan hati tertutup dihadang geram dan amarah
Malam-malam tempat kita menyembunyikan cinta telah dionarkan kobaran kebencian
Daging-daging yang selama ini kita manjakan pun ikut terpanggang api dendam
Udara diseputar kita meluapkan bau yang terlalu anyir
Dan lalat-lalat berpesta dimana-mana

Bagaimana aku bisa menyanyi?
Aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka
Aku tak bisa mengadukan duka pada duka
Mengeluhkan luka pada luka
Senar gitarku putus dan dan aku tak yakin mampu menyambungnya kembali
Dan langit pun seolah sudah muak dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

Maaf sayang, aku tak bisa lagi menyanyi bersamamu atau sendiri
Entah, jika tiba-tiba nabi Daud datang membawa seruling ajaib.

Senin, 04 Juni 2012

W. S Rendra


AKU TULIS PAMPLET INI

AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA LEMBAGA PENDAPAT UMUM
DITUTUPI JARING LABAH-LABAH
ORANG-ORANG BICARA DALAM KASAK-KUSUK,
DAN UNGKAPAN DIRI DITEKAN
MENJADI PENG-IYA-AN

APA YANG TERPEGANG HARI INI
BISA LUPUT BESOK PAGI
KETIDAK PASTIAN MERAJALELA
DI LUAR KEKUASAAN KEHIDUPAN MENJADI TEKA-TEKI,
MENJADI MARABAHAYA,
MENJADI ISI KEBON BINATANG

APABILA KRITIK HANYA BOLEH LEWAT SALURAN RESMI
MAKA HIDUP AKAN MENJADI SAYUR TANPA GARAM
LEMBAGA PENDAPAT UMUM TIDAK MENGANDUNG PERTANYAAN
TIDAK MENGANDUNG PERDEBATAN
DAN AKHIRNYA MENJADI MONOPOLI KEKUASAAN

AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA PAMPLET BUKAN TABU BAGI PENYAIR
AKU INGINKAN MERPATI POS
AKU INGIN MEMAINKAN BENDERA-BENDERA SEMAPHORE DI TANGANKU
AKU INGIN MEMBUAT ISYARAT ASAP KAUM INDIAN
AKU TIDAK MELIHAT ALASAN

KENAPA HARUS DIAM TERTEKAN DAN TERMANGU
AKU INGIN SECARA WAJAR KITA BERTUKAR KABAR
DUDUK BERDEBAT MENYATAKAN SETUJU ATAU TIDAK SETUJU

KENAPA KETAKUTAN MENJADI TABIR PIKIRAN ?
KEKHAWATIRAN TELAH MENCEMARKAN KEHIDUPAN
KETEGANGAN TELAH MENGGANTI PERGAULAN PIKIRAN YANG MERDEKA

MATAHARI MENYINARI AIRMATA YANG BERDERAI MENJADI API
REMBULAN MEMBERI MIMPI PADA DENDAM
GELOMBANG ANGIN MENYINGKAPKAN KELUH KESAH
YANG TERONGGOK BAGAI SAMPAH
KEGAMANGAN
KECURIGAAN
KETAKUTAN
KELESUAN

AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA KAWAN DAN LAWAN ADALAH SAUDARA
DI DALAM ALAM MASIH ADA CAHAYA
MATAHARI YANG TENGGELAM DIGANTI REMBULAN
LALU BESOK PAGI PASTI TERBIT KEMBALI
DAN DI DALAM AIR LUMPUR KEHIDUPAN
AKU MELIHAT BAGAI TERKACA :
TERNYATA KITA, TOH, MANUSIA !


 
Sajak Orang Lapar

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

oh.. Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

oh... Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

oh... Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

oh... Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

oh.... Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu


 
KELELAWAR

Silau oleh sinar lampu lalu lintas
Aku menunduk memandang sepatuku
Aku gentayangan bagai kelelawar
Tidak gembira, tidak sedih
Terapung dalam waktu
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku

Sekarang aku kembali berjalan
Apakah aku akan menelpon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit direstoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi
Masalah sosial dipoles gincu menjadi metafisika
Sikap jiwa dianggap maya
Dibanding mobil berlapis baja
Hanya kamu yang enak diajak bicara

Kakiku melangkah melewati sampah-sampah
Aku akan menulis sajak-sajak lagi
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja
Kesini, Ma. Masuklah kedalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.

Tomang tinggi,1981


NB : Sekarang, setiap aku mengunjungi bengkel teater, seperti tidak ada lagi yang menarik untukku. Memang hanya kamu, Rendra.


Minggu, 29 April 2012

Dua Belas Purnama


Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Menatap masa lalu dengan penuh penyesalan
Begitu terpaku disudut tembok ruang yang hitam
Aku berdarah dicabik jutaan kuku kuku setan yang gentayangan
Jutaan detik sia-sia

Kupandangi cermin usang didepanku
Tanpa cahaya lampu aku masih bisa melihat bayangan abu-abu
Hitam
Dan lalu pergi

Ketidakberadaan cahaya membuatku kelam
Kusulutkan api dari sebatang korek kayu yang kugenggam
Lalu makin jelas robekan luka diwajahku
Terbelalak, berdarah dan busuk
Pantas saja cahaya pun tidak sudi meneranginya

Aku berputar-putar mengelilingi ruangan
Mencari teman yang bisa aku ajak bicara
Aku teriak tanpa suara
Oooh bayang-bayang dimana kamu berada?
Temanku satu-satunya pun tidak ada

Iblis laknat!
Karenamu aku luka
Dimana kamu sekarang?
Mengapa setelah aku menjadi temanmu kau malah pergi??
Begitukah wujud kelicikanmu?
Sekarang aku tidak heran mengapa kau di usir dari surga

Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Menciptakan siluet hitam sempurna
Tidak berseni, tidak indah
Bau busuk menyengat hidungku yang berusaha membedakan mana oksigen mana karbondioksida
Aku sesak terhimpit masa silam kelabu
Jutaan detik sia-sia

Aku terduduk lemas dan meneteskan air mata
Kaki gemetar ketakutan
Aku mulai komat-kamit menyebut nama-Nya
Lalu tiba-tiba muncul sebercak cahaya kecil bagai kunang-kunang
Silau ditengah kegelapan
Inikah simbol hidayah-Nya?
Aku celingukan  memantau sekitar ruangan
Ini kesempatan untuk aku berpaling dari iblis-iblis brengsek penguasa nafsu-nafsu fana

Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Jutaan detik sia-sia
Aku bukan udang
Tidak akan pernah aku ulang

Jakarta, 20 April 2012



Sajak Pencarian Aku


Sekian judul daya imajinatif dan pikirmu telah tertera di muka publik
Semua tersimpan apik dalam arsip maya
Puluhan, mungkin puluhan judul yang telah kau tulis selepas waktu pertama aku dan kamu
Tapi tak ada sedikit tentang aku
Sedang aku, selalu menulis apapun berkaitan denganmu
Melukismu
Bercerita pada kawan
Dan lain sebagainya
Aku selalu menempatkanmu sesuai dengan apa yang aku katakan malam itu

Tapi dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Adakah hanya lewat bunyi dari pita suaramu?
Lantas dapatkah aku percaya akan kata-kata manismu itu?
Apa alasanku??
Semua orang bisa berkata manis!

Aku bukan ikan yang bodoh melahap umpan di mata pancing
Tersaring dalam jala beserta sampah laut lainnya
Aku tidak buta
Aku bisa melihat tuangan penamu yang asik bercerita mengenai gadis gadis itu

Dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Aku tidak buta, sayang
Tidak juga bodoh
Hanya saja aku malas melihat kebenaran dan berpikir realistis
Anganku sudah lelap dibuai mimpi

Kini dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Ah, aku mohon, sayang
Pergilah! 
Jangan kembali! 


Selasa, 17 April 2012

Mukadimah Indah


Saat semuanya tenggelam
Kau muncul ke permukaan
Menawarkan sebongkah benda yang bisa dijadikan perhiasan
Aku menerimanya dengan tangan terbuka

Seraya tersenyum
Kau bicara hangat
Membawa revolusi pada pemikiran jenuhku
Aku suka itu

Panah aprodite yang kau tancapkan begitu terasa
Dalam, tapi tidak menyakiti

Teruslah berjalan, sayang
Persimpangan ini tidak harus membuatmu bingung
Ada jalan yang sudah jelas harus kau pilih

Cepatlah!
Kau tak perlu hati-hati
Terjatuhlah untukku
Maka aku akan mengobati lukamu yang terbelalak itu
Lalu mulailah bersama menelan jalan hidup
Menghirup udara yang kadang bersih kadang berpolusi
Mendengar ocehan, nyanyian dan pelajaran
Denganku, pahitmu pun berharga

Laki-Laki Bodoh


Diam sendiri di tengah padang Sahara
Melihatmu dari kejauhan tengah berjalan
Membawa sekantung kotoran unta yang kau seret seret
Keningmu mengerut menahan terik raja siang
Aku yang tengah meneduh merasa kasihan
Tapi tetap tidak dapat berbuat apa-apa selain menonton pemandangan itu

Dan kau juga tidak menuju kearah tempatku duduk
Mungkin kau malu hingga memilih gubuk rusak disampingku
Dengan penuh rasa bersalah kau memandangku
Lalu tiba-tiba  mengirimkan satu senyuman
Aku tergugu
Hanya dapat membalas tatapanmu tanpa tersenyum
Marah dan muak telah membuncah didalam tubuhku
Mengalahkan rasa ingin mendekap jiwamu yang tersiksa

Ribuan lalat hijau nemplok diatas badanmu yang letih
Membuatku semakin jijik bahkan untuk sekedar memandangmu
Kiloan kotoran unta yang kau bawa menjadi beban yang tidak dapat kau lepaskan
Kau itu bodoh, padahal kotoran itu yang membuatmu diserbu jutaan lalat hijau
Harusnya tadi ditengah perjalanan kau meninggalkan karung itu
Atau mungkin lebih baik dibuang saja!
Ya, dibuang sembarangan saja!

Tapi itu rasanya tidak mungkin
Mengingat kamu adalah orang yang tidak pernah mau dianggap bersalah
Mana bisa kau membuang atau meninggalkan apa yang kau bawa-bawa?
Jika itu membuatmu merasa sempurna,
Justru itu pula yang membuatku tidak pernah memandangmu sempurna!

 Jakarta, 4 April 2012

Minggu, 11 Maret 2012

Pudarnya Ideologi


Ideologi hidup berawal dari sebuah pemikiran
Terpatahkan oleh satu kata jera
Segala keterkaitan yang membuat perut mual
Basa-basi bukan lagi sebuah kebutuhan sosial
Melainkan topeng yang wajib dikenakan
Lakon-lakon segala karakter begitu sempura dimainkan
Melekat kuat
Sulit dilepaskan dari realita
Bosan menjadi satu, ingin dua
Bosan menjadi dua, ingin tiga
Bosan menjadi tiga, ingin lima
Sebegitukah kita?

Terseok-seok dengan peran sendiri
Lemas setengah mati karena berlari
Realita yang tidak harus ditinggalkan
Menjadi dongeng klasik yang sering diceritakan

Cikarang – Bekasi
8 Meret 2012

Sabtu, 04 Februari 2012

DARI SEBATANG TEMBAKAU


Ijikan aku bicara sedikit saja
Tentang hidup, tentang cinta

Kantukku belum muncul hingga fajar ini tampak
Tembakauku hanya tinggal sebatang
Entah kenapa beberapa hari belakangan ini aku bersahabat dengan malam
Dengan iringan instrument gitar klasik
Aku bicara pada alam tentang hidup
Bicara pada alam lewat pikiran, khayalan, pertanyaan dan doa yang terus menerus berotasi di otakku
Dan sesekali mampir lewat luwesnya jari menari diatas keyboard komputer jinjingku

Hidup itu pertaruhan
Bisa menang bisa kalah
Tapi jangan berharap menang jika tidak berani mempertaruhkannya
Hidup bicara soal keberanian
Hidup bicara soal aturan
Soal dogma dan norma yang terkait paradigma

Namun saat aku bicara pada semua tentang hidup dan keberanian
Aku bicara padamu tentang cinta
Seperti ibu yang membersihkan berak si bayi
Seperti bapak yang mencuri pakaian jadi untuk makan anak istri
Seperti gadis penjaja buah dada yang hina demi famili

Cinta itu sebilah samurai
Bisa jadi senjata untuk melindungi diri dari lawan
Tak sengaja menusuk kawan
Atau bahkan harakiri

Ya,itulah cinta
Cinta itu sebilah samurai
Sebuah karya seni tinggi dari Penciptanya

Dan aku tak pernah mau hidupku diakhiri oleh sebilah samurai di tanganku
Aku tak mau harakiri
Itu bukan budayaku
Itu tak sesuai dengan dogma yang ku patut
Dan yang lebih penting lagi, aku penakut!
Lebih baik bunuh aku dengan samurai yang ada ditanganmu itu

Aahh,, sudahlah
Bicara hidup tak kan pernah ada habisnya
Bicara cinta apalagi
Sudahlah, sudah
Tembakauku pun sudah habis
                                                                        Jakarta, 3 Februari 2012, 04.58 WIB

Indra Sofian


Aku meneteskan air mata malam ini
Bukan soal cinta
Bukan derita
Dan juga bukan luapan isi keluh kesah
Air mata ini jatuh tanda rindu

Caranya menatap
Caranya berjalan
Caranya bersenda gurau dengan guyonan
Caranya menyemangati
Aku rindu sahabatku
Aku rindu kamu, Ndra

Kau banyak mengajariku
Tapi sama sekali tidak menggurui
Bahwa banyak hal terang yang dapat kita lihat dari sudut hitam
Bahwa getir bisa dijadikan manis
Bahwa sakit bisa dijadikan pemacu
Aku rindu abangku
Aku rindu kamu, Ndra

Kau ingat aku kan, Ndra?
Aku yang dulu sempat jadi gurumu
Oh,bukan, bukan
Lebih tepatnya jadi konsultan dari sedikit masalah hidupmu
Usiamu saat itu 28 tahun, dan aku 19 tahun
Kala itu aku berasa seperti kotbah pada Uztad
Uztad yang ditinggal Uztadzah. Haha

Aku menyematkan beberapa ayat dalam kalimat penjabaranku
Padahal kau sepertinya lebih tahu
Itulah hebatnya kamu, Ndra

Aku rindu teman bicaraku
Aku rindu kamu, Ndra
Aku rindu melihatmu dengan kaos lusuh
Aku rindu duduk dibelakangmu saat kau menunggangi kuda besimu
Aku rindu melihat kamu dengan segala kesederhanaanmu
Aku rindu keberanianmu

Mataku semakin deras mengluapkan airnya
Aku rindu kamu, Ndra
Cepatlah bebas
Berikan aku sedikit pembelajaran hidup lagi


Sumpah, gue gak kuat lagi nulisnya. Gue nangis dengan berlinangan air mata, tapi tanpa suara. Gue kangen lo, Ndra. penjara bukan tempat lo..!!