Tampilkan postingan dengan label Puisi Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Esai. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

Memori

Aku kerap kali duduk dibawah langit malam, memandang penuh tanya dan rindu. Meyakinkan diri bahwa ada kamu disana, melayang-layang di atas awan, sendirian. Beberapa kali aku menyusuri kembali apa yang pernah kita lewati, dengan pikiran dan melakukan. Sayangnya tanpa kamu yang nyata, hanya bayang. 

Pernah aku berdiri ditengah-tengah kerumunan orang yang sedang asik menikmati ‘efek rumah kaca’. Ada yang ikut bernyanyi, ada yg bercengkrama dengan kawan, ada juga yang sendiri lalu berkaca-kaca. Aku salah satu dari yg sendiri. Menikmati nada-nada yang terdengar samar, terpukau lampu-lampu panggung yang benderang dan mencumbui bayangmu.

Aku menangkap dirimu sedang berada di kereta, mendengarkan lagu yang sama melalui earphone-mu. Merasakan rindu yang sama denganku. Kamu menyusuri jalan, aku membentang malam. Sama-sama saling mengingat dengan cara yang berbeda, di tempat yang tak sama. Melawan rindu yang berkecamuk, melawan rasa yang harusnya tak lagi dirasa.

Di lain waktu aku pergi ke toko buku, masuk kedalam sudut toko tempat dimana buku-buku filsafat berjejer rapi disana, aku memandang satu persatu, mengambil satu yang menurutku menarik bagi ‘kita’. Lalu dengan bodoh aku berkata lirih “ini pasti kamu suka”, entah bicara pada siapa. Tak ada satu orang pun bersama aku saat itu, tapi kamu ada disini –di pikiranku-, juga hatiku.

Melihat dunia luar adalah melihat kamu, mendengarkan musik adalah mendengarkan ceritamu, meraba makna adalah bercumbu denganmu.

Kamu. Aku mencintai kamu. Sejak empat tahun lalu. 

Kamis, 31 Oktober 2013

Memecah Udara

Terlalu sulit untuk mendeskripsikan maknanya, romantis, duka atau kah biasa saja. Semakin lunak kayu kayu mati ini dilalap derasnya. Kegagahannya semakin menghilang dan terbuang. Dan saat ku sentuh, itu lebih dari sekedar lembab. Aku segan pergi ke toilet, air lagi dan air lagi. Aku takut menyenyuh dinginnya. Jadi kuputuskan untuk tetap disini. Ruang dimana aku sering berdiskusi denganmu.
Kamu begitu dingin sore ini. Sebenarnya sama dengan sore-sore sebelumnya. Dingin. Nyaris beku. Tapi bukan aku jika tidak bisa mencairkan kondisi yang semakin kaku ini. Kuambil kanvas kanvas lusuh dari sudut ruang. Lalu tanpa bahasa kau bertanya "karenaku?". Tentu saja bukan! Tapi karena seseorang! Dan lalu riuh gertakanmu memecah udara senja..
Hujan.. Sebotol Whiskey ini bahkan dirasa sangat kurang. Masih saja kaku. Harusnya aku membeli lebih banyak Whiskey. Sayangnya aku pengangguran! Jadi nikmati sajalah seadaanya. Jilat sehabis-habisnya, kecup sedikit manisnya dan hirup seluruh harumnya. Rasakan setiap teguknya melintasi langit-langit goa-mu yang dingin. Ini hangat tanpa panas, dan panas tanpa api serta nikmat sekali. Kadang inilah yang membuat aku berterimakasih, aku jadi bisa menikati dunia walau mungkin tidak syar'i. Begitu juga kalian! Iya kan?
Ingat kah saat dulu? Iya dulu. Samar samar aku ingat betapa senangnya aku ketika kamu tiba-tiba datang dengan gagahnya bersambut petir sana sini. Ketika sebagian raga kalang kabut, aku duduk santai dikursi kelas. Memandangmu dengan kagum. Aku tidak takut bahkan ketika yang lain menganggapmu begitu mengerikan. Yang aku lihat hanya elok berdayu-dayu, rinai senada tanpa debu. Lalu jatuh dan mengalir ke hulu. Jadi dari sisi apa aku harus pergi mengabaikan keindahanmu? Tidak ada!
Terlalu polos aku saat itu. Kini aku banyak melihat sisi lain darimu. Lebih keras berpikir, dan semakin sering otakku terkilir. Setidaknya aku realistis, hanya saja adanya gemuruh aneh dirongga dada membuatku sedikit sesak dan apatis.
Terus lantunkan lagi cerita-cerita ini, musik ini dan udara ini. Basah. Lembab. Hidup. Memecah Udara............

Kamis, 28 Juni 2012

Surat Dari Cenayang


Kau salah jika berpikir bahwa cintalah yang membawanya kembali padamu. Aku muak ketika kau membanggakan kehadirannya yang kerap kali menyakitimu. Padahal karena itu, tanpa sadar kau telah memperlihatkan kebodohanmu yang paling bodoh.

Asal kau tau, dia tidak kembali padamu karena cinta, tapi karena rasa bersalah dan tanggung jawab. Bersalah karena menyakitimu dan bertanggung jawab atas segala apa yang telah ia dapatkan darimu. Ya, tentu saja keperawananmu itu.

Atau bahkan ada kemungkinan Ia masih betah menjajali nikmatnya desah napasmu kala libidonya meningkat. Dia hanya takut kehilangan nikmat yang satu itu. siapa tau??

Sudahlah, jangan terlalu membanggakan kehadirannya yang kosong. Aku tau persis dia masih memiliki rasa cinta padaku, itu tidak bisa ditampik lagi dari pandangannya. Pandangan kepura-puraannya pada cintamu dan pandangan kepura-puraannya untuk melupakanku. 

Pintarlah sedikit, kawan. Terus terang saja aku iba melihatmu. Dia sungguh-sungguh tidak pantas untuk dibanggakan. Dia tidak punya apa-apa yang patut dibanggakan. Miskin, tidak tampan, peminta-minta, pembohong dan busuk. 

Aku saja mulai menyadari bahwa aku begitu bodoh saat aku terkena busuknya basa-basi dari mulut dia yang biadab itu. Manis yang ia paparkan berujung dengan memuntahkan zat asam pada kehidupanku. Pintar sekali memang manusia yang satu ini. Untunglah aku tidak larut dalam kesedihan akibat kebodohanku, untunglah aku segera sadar. 

Sudahlah, sudah. Tidak ada yang menarik dari sampah macam dia. Sampah memang untuk dibuang, kawan.
Oia, satu lagi. Jangan pernah menganggap aku bakal iri hati melihat kemesraan kalian didepan mataku. Salah besar jika kau anggap itu akan semakin melukai hatiku. Yang ada aku malah iba padamu. Dia itu pemakai topeng ulung. Manis yang Ia beri hanya tipuan.
Dia itu masih mencintaiku, kawan. 

Night 27-06-12

Selasa, 01 Mei 2012

Pasti Bukan Aku Yang Kamu Maksud


Sudah kuduga sejak awal, tapi kebodohan terlalu lengket melekat dalam otakku yang dangkal. Tidak pernah ada isyarat mendalam yang kau tanamkan diotakku. Aku sibuk sendiri ditengah rasa limbung antara pertanyaan satu dengan yang lainnya. Itu karena kamu. Tapi aku tetap yakin dan keras kepala atas segala perasaan-perasaan yang timbul ini. Lagi lagi, karena kamu.
Gadis baik menurutmu itu bukan aku kan?? Pasti bukan. Kamu tidak pernah memberikan isyarat apapun untukku. Bahkan malam itu pun tidak. Aku juga tidak pernah merasa telah memberikan nasehat-nasehat untukmu agar berubah kearah yang lebih positif. I never changed your personality, I never changed your style, I never changed everything about you... never...
Aku bukan gadis baik yang kamu maksud.
Aku tidak paham atas kode yang tidak pernah kamu berikan.
Aku bukan gadis baik yang kamu maksud.