Minggu, 29 April 2012

Dua Belas Purnama


Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Menatap masa lalu dengan penuh penyesalan
Begitu terpaku disudut tembok ruang yang hitam
Aku berdarah dicabik jutaan kuku kuku setan yang gentayangan
Jutaan detik sia-sia

Kupandangi cermin usang didepanku
Tanpa cahaya lampu aku masih bisa melihat bayangan abu-abu
Hitam
Dan lalu pergi

Ketidakberadaan cahaya membuatku kelam
Kusulutkan api dari sebatang korek kayu yang kugenggam
Lalu makin jelas robekan luka diwajahku
Terbelalak, berdarah dan busuk
Pantas saja cahaya pun tidak sudi meneranginya

Aku berputar-putar mengelilingi ruangan
Mencari teman yang bisa aku ajak bicara
Aku teriak tanpa suara
Oooh bayang-bayang dimana kamu berada?
Temanku satu-satunya pun tidak ada

Iblis laknat!
Karenamu aku luka
Dimana kamu sekarang?
Mengapa setelah aku menjadi temanmu kau malah pergi??
Begitukah wujud kelicikanmu?
Sekarang aku tidak heran mengapa kau di usir dari surga

Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Menciptakan siluet hitam sempurna
Tidak berseni, tidak indah
Bau busuk menyengat hidungku yang berusaha membedakan mana oksigen mana karbondioksida
Aku sesak terhimpit masa silam kelabu
Jutaan detik sia-sia

Aku terduduk lemas dan meneteskan air mata
Kaki gemetar ketakutan
Aku mulai komat-kamit menyebut nama-Nya
Lalu tiba-tiba muncul sebercak cahaya kecil bagai kunang-kunang
Silau ditengah kegelapan
Inikah simbol hidayah-Nya?
Aku celingukan  memantau sekitar ruangan
Ini kesempatan untuk aku berpaling dari iblis-iblis brengsek penguasa nafsu-nafsu fana

Dua belas purnama berlalu dibalik punggung kebodohan
Jutaan detik sia-sia
Aku bukan udang
Tidak akan pernah aku ulang

Jakarta, 20 April 2012



Sajak Pencarian Aku


Sekian judul daya imajinatif dan pikirmu telah tertera di muka publik
Semua tersimpan apik dalam arsip maya
Puluhan, mungkin puluhan judul yang telah kau tulis selepas waktu pertama aku dan kamu
Tapi tak ada sedikit tentang aku
Sedang aku, selalu menulis apapun berkaitan denganmu
Melukismu
Bercerita pada kawan
Dan lain sebagainya
Aku selalu menempatkanmu sesuai dengan apa yang aku katakan malam itu

Tapi dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Adakah hanya lewat bunyi dari pita suaramu?
Lantas dapatkah aku percaya akan kata-kata manismu itu?
Apa alasanku??
Semua orang bisa berkata manis!

Aku bukan ikan yang bodoh melahap umpan di mata pancing
Tersaring dalam jala beserta sampah laut lainnya
Aku tidak buta
Aku bisa melihat tuangan penamu yang asik bercerita mengenai gadis gadis itu

Dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Aku tidak buta, sayang
Tidak juga bodoh
Hanya saja aku malas melihat kebenaran dan berpikir realistis
Anganku sudah lelap dibuai mimpi

Kini dimana aku mencari aku didalam dirimu?
Ah, aku mohon, sayang
Pergilah! 
Jangan kembali! 


Kumpul

Katanya anak band, tapi kumpulnya dibelakang kuburan cina... hahaha

Selasa, 17 April 2012

Dia


Dia, selalu datang diwaktu yang tepat. Entah kenapa. Aku tidak pernah tahu sebabnya.
Diwaktu aku sedang merasakan sepi, kecewa, bosan, dia datang dihadapanku membawa bayak canda agar aku tersenyum. Dan untuk sesaat aku dapat melupakan segala masalahku. Dia bukan kekasihku, bukan juga sahabat apalagi teman, aku sendiri tidak tau harus menyebutnya apa.
Disaat bersama dengan dia, aku merasa ada kenyamanan, ada sesuatu yang sulit aku jelaskan, tapi bukan cinta. Ya, bukan cinta. Aku tau persis bagaimana rasanya jatuh cinta itu, dan yang aku rasakan ini bukan jatuh cinta.
Saat aku sedang bersama dia, semua orang pasti menganggap bahwa aku sedang menjalin hubungan asmara dengannya. Ketika berada ditempat yang cukup ramai, dia selalu menggenggam tanganku, katanya ia khuatir aku hilang. Dan saat ditempat yang tidak terlalu ramai, ia selalu merangkulku sambil berjalan. Kamipun berbincang layaknya sepasang kekasih, sama-sama menggunakan kata-kata yang lembut. Disaat berguraupun demikian. Yang jelas setiap orang yang melihat kebersamaan kami pasti iri. Iri karena kami begitu terlihat mesra.
Dia. Siapa dia itu? Entahlah, aku hanya tau namanya Rama. Rama Adi Putra. Bukan kekasihku, bukan sahabatku, bukan juga temanku. Entahlah. 

Busy !!!



Lunch hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Diluar rumah. Dan sendirian. Hal ini udah jadi rutinitas rutin gue sejak beberapa bulan yang lalu. Entah kenapa gue baru menyadari kalo ternyata gue gak pernah ada dirumah diwaktu siang, dan itu hampir tiap hari. Sekitar jam sepuluh pagi gue udah keluar rumah untuk beraktifitas, pulangnya pun hampir setiap hari lebih dari jam 9 malam.  Untuk seorang mahasiswa kayak gue pasti banyak yang bertanya-tanya rutinitas apa yang gue lakuin diluar rumah sampe hampir setiap hari gitu. Gue udah semester enam, karena gue ngambil program diploma III jadi disemester ini gue cuma ngerjain Tugas Akhir. Gak banyak mata kuliah yang gue ambil. Malah seminggu cuma masuk sekali, hari sabtu doang, itupun dua jam aja. Pengerjaan Tugas Akhir juga belum terlalu sibuk. Masih awal banget. Lalu apa yang gue lakuin diluar rumah setiap harinya??
Dan tanpa gue sadar lagi, ternyata gue itu sangat-sangat sibuk. Ada aja yang gue lakuin diluar rumah setiap harinya. Latihan ini, latihan itu. Ngerjain ini, ngerjain itu. Job ini, job itu. Ada aja jadwalnya. Heran gue juga. Sekalinya ada jadwal free sehari, gue malah terserang kejenuhan didalem rumah. Bawaannya pengen keluar, hang out. Mungkin karena gue butuh refreshing kali ya setelah berhari-hari ngelewatin rutinitas yang ngebosenin. Haha I don’t know. Yang jelas gue harus memenuhi nafsu gue untuk hang out di waktu free yang langka itu.
Dan gue ngelakuin hal apa aja yang sekiranya membuat kejenuhan gue itu ilang. Anything. Banyak banget yang bisa gue lakuin diluar rumah, mau itu sendiri kek, mau itu sama temen-temen kek. Pokoknya have fun! Walau lebih sering sendiri sih.. haha. Maklum jomblo.. hehe. Yang penting tetep bahagia kan? Ya gak? Hehe.
Yaudah ah, gue mau ngabisin lunch gue dulu. Dikejar waktu nih. Maklum sibuk. Haha.
I hope tomorrow is holiday. Gue ada janji untuk menemui seseorang dalam waktu dekat ini, seseorang yang jauh disana. Waktu luang, plis dateng buat gue. Amin.   

Mukadimah Indah


Saat semuanya tenggelam
Kau muncul ke permukaan
Menawarkan sebongkah benda yang bisa dijadikan perhiasan
Aku menerimanya dengan tangan terbuka

Seraya tersenyum
Kau bicara hangat
Membawa revolusi pada pemikiran jenuhku
Aku suka itu

Panah aprodite yang kau tancapkan begitu terasa
Dalam, tapi tidak menyakiti

Teruslah berjalan, sayang
Persimpangan ini tidak harus membuatmu bingung
Ada jalan yang sudah jelas harus kau pilih

Cepatlah!
Kau tak perlu hati-hati
Terjatuhlah untukku
Maka aku akan mengobati lukamu yang terbelalak itu
Lalu mulailah bersama menelan jalan hidup
Menghirup udara yang kadang bersih kadang berpolusi
Mendengar ocehan, nyanyian dan pelajaran
Denganku, pahitmu pun berharga

Embrace


Gue gk tau apa yang lagi gue rasain malam ini. Jam udah nunjukin angka satu lebih dua puluh menit. Dan ujan juga belum mau berenti. Dan lagi gue juga belum mau nutup mata gue untuk masuk ke alam tidur.
Sejak beberapa jam yang lalu entah kenapa gue pengen banget menggenggam erat tangan seseorang lalu kemudian memeluknya. Bukan tertuju pada satu nama, tapi gue pengen ngelakuin itu dengan siapapun. Ya, siapapun! Gue pengen ngerasain hangatnya menggenggam tangan seseorang, bersandar di bahu dengan lembut dan merasakan tepukan atau usapan halus dipunggung gue pertanda bahwa orang itu mengerti apa yang gue rasakan dan berusaha untuk ikut masuk kedalam rasa gue itu.
Huh, gak muluk-muluk kan? Tapi itu gak bisa gue dapetin sekarang. Mungkin ini efek karena gue lagi bener-bener ngerasa sendiri kali ya? No bodies everywhere! ALONE. Bukannya gak ada orang disekeliling gue, lebih tepatnya lagi gue merasa gak ada orang yang mengerti kondisi gue sekarang. Gue ngerasa apa yang gue punya tuh lenyap. Everything is gone. Kepercayaan diri gue, bakat gue,  keluarga gue dan lain sebagainya. Gila! Perasaan yang tolol! Dan gak seharusnya gue larut di dalam rasa ini!
Gue memejamkan mata, mencoba menghayal dipeluk oleh seseorang. Lama. Cukup lama gue memejamkan mata menunggu rasa itu datang. Tapi tetep nihil. Gue gak berhasil merasakan apa yang ada dihayalan gue.
Oke, gue coba lagi memejamkan mata. Sebentar. Lalu tiba-tiba entah mengapa gue ngerasa dipeluk. Bukan oleh seseorang. Bukan. Ini beda. Rasanya lebih hangat dan aman. Nyaman. Mengadirkan kembali yang menurut gue hilang. Bahkan lebih. Hati gue gemetar.

Oh Allah, Engkau telah memelukku. Bahkan tanpa kusadari bahwa Engkau memang selalu memelukku.