Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat
terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa
saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak
itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil
salah satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan
buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu
berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari
penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu
membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil
beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es
krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya
lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry
dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu
kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati
es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai
habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim
pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam
karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak
mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya,
“dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar
uang tersebut untuk si pelayan.
Hidup adalah kata. Hidup adalah waktu. Hidup adalah bahasa. Hidup adalah kehidupan. Hidup.... adalah deru nafas kerja yang menghasilkan sebuah 'MASTERPIECE'
Senin, 22 Oktober 2012
Selasa, 16 Oktober 2012
PASTI
Saya sakit hati.
Lebih tepatnya sangat sakit hati.
Saya menyerah
Saya mundur
Saya lelah
Bukan karena sakit itu, tapi karena sudah terlalu lama
Saya sangat lelah
Saya akan melupakan anda
ya, PASTI !!
Kamis, 27 September 2012
Putaran Hati Ananda
Ini klasik
untuk didengar
Kisah awam
darah muda di rubik tenar
Titik cinta
yang diberi berasa benar
Panah
aprodite begitu nanar
Ananda
memang anak kemarin sore yang sebentar
Denting
hujan, laut dan batu besar
Menyusun
alfabet yang bersinar
Tersemat
dalam sel pusat yang terus berputar
Cinta ada
saat ananda masih merah dan gemetar
Nanda takut
purnama kan pudar
Itu salah
satu kunci yang mengikar
Tapi makro
detik membuat nanda tegar
Cinta Mereka
Dan jika ada hari dimana
semua kembali
Mereka akan lebih bahagia
dari sebelumnya
Melupakan sakit yang
sebenarnya masih terasa
Dengan kebersamaan yang
tidak terpisahkan
Lewat kesederhanaan gerak
serta bahasa prosa
Harapan itu sering kali
putih, abu-abu dan terkadang hitam
Merangkul setiap gemercik
hujan yang turun akan memunculkan segenap rasa
Tenang dalam riuh, lembut
walau deras, bahagia, pilu dan rindu
Lalu wanita itu akan
menangis ditengah-tengahnya
Merasakan air mata di
pipi yang serupa dengan air hujan
Tapi lebih hangat dan
menyakitkan
Sulit bagi mereka
membedakan omong kosong dengan janji yang tertunda
Kepercayaan besar sudah
tertanam kokoh
Hanya saja terus digangu
tumbuhnya benalu dan rumput liar
Tidak hidup...
Tidak mati...
Bukan duka...
Dan bukan pula suka...
Ini adalah cinta
mereka...
Terhalang...
Kamus Besar Bahasa (Part I)
Aborsi : Tindakan gegabah seorang
perempuan yang sudah tidak perawan. Membuang hasil dari apa yang telah ia
lakukan (dengan sengaja).
Asosial : Sombong.
Rakyat : Robot.
Rumah sakit : Ada uang, ada dokter.
Demokrasi : Gagasan yang mengutamakan peran serta
rakyat dalam ikut andil mendukung jalannya pemerintahan. Dari rakyat, oleh
rakyat, untuk pemerintah.
Partai : Organisasi yang fasih dalam
berpolitik (uang).
Pancasila : Asas tunggal Republik Indonesia
yang wajib dihapalkan, sunnah diamalkan.
Korupsi : Suatu budaya khas Indonesia yang ingin ditiadakan, namun selalu gagal
Selasa, 18 September 2012
Kehidupan dan Idealisme
Kehidupan, terlalu banyak menuntut kesempurnaan yang sebenarnya terlalu
dibuat buat. Latar belakang pendidikan dan status sosial, kini selalu menjadi
tolak ukur penilaian atas kesempurnaan hidup. Lalu saya bertanya, dimana
keberadaan berjuta ideologi sebelumnya? Mengapa kini semakin menyempit?
Bagi saya, keberadaan sekolah dan universitas adalah omong kosong ketika
siswanya hanya bertujuan mendapat nilai A atau lulus dengan predikat Cum Laude. Kenapa tujuan mereka di
akhir? Kenapa tidak prosesnya itu yang menjadi tujuan? Yaitu, belajar dan mencari ilmu!
Saya pernah bertanya pada seorang teman dari Universitas Indonesia Fakultas
Ilmu Budaya angkatan 2005 yang sampai saat ini belum menyelesaikan skripsinya.
“Lo kenapa Bang gak ngelarin skripsi lo? Gila ye betah banget di kampus. S1 kok
tujuh tahun lebih! Haha.”
Sembari teretawa kecil dan menyelesaikan lukisannya beliau menjawab, “Gue
lebih suka bertitle MAHASISWA Ta
dibanding bertitle PENGANGGURAN!
Propesi macam kita tuh (pelaku seni) tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan.
Ya jadinya, kita ini PENGANGGURAN terus!”
Kali ini saya yang tertawa, bukan karena lucu, tapi karena saya menyetujui
pernyataan beliau. Beliau orang yang cerdas, wawasannya luas, bahkan saya yakin
jika beliau menyelesaikan skripsinya dan mengikuti sidang kelulusan, maka
dengan mudah beliau akan lulus dengan menyandang predikat Cum Laude. Tapi itu belum menjadi pilihannya sekarang. Sampai saat
ini, beliau masih asik menikmati kegiatan kampus tanpa memikirkan iming-iming title Sarjana.
Ijinkan saya berandai sejenak. Andai
saya tidak hidup diperadaban yang meyakini bahwa latar belakang pendidikan
menjadi tolak ukur sebuah pencapaian kesuksesaan, yap! mungkin dari awal
saya akan memilih untuk tidak bersekolah formal. Karena saya menyadari, yang
sedari awal saya dapatkan di sekolah, ternyata bisa saya dapati diluar sekolah.
Bahkan lebih! Dan yang lebih penting, pelajaran yang saya dapat diluar sekolah
tidak bertujuan mendapat nilai A, tetapi pasti mendapatkan nilai A!
Tapi itu hanyalah andai-andai. Nyatanya saya hidup pada peradaban dimana
Ijasah-Ijasah menjadi sebuah barang berharga yang diburu banyak orang. Bahkan
bagi yang sulit mendapatkannya, maka ia tidak ragu-ragu untuk memalsukan
lembaran bodoh itu. Alasannya, agar mudah mendapat pekerjaan. Padahal sudah
jelas-jelas begitu banyak orang yang memiliki Ijasah Strata satu tetapi masih
menjadi PENGACARA alias PENGANGGURAN BANYAK ACARA. Ironi kan?
Baiklah, tak apa, saya tidak menyesali takdir yang mengantarkan saya pada
jaman kalangkabutan macam ini. Saya akan mengikuti segala prosedur yang ada.
Tapi saya juga punya jalan sendiri. Siapa
yang sudi melewati jalan yang sudah padat? Saya punya jalan sendiri. Tanpa
tekanan dan dengan terus menikmati, saya akan melewati jalan saya sendiri.
Setelah lulus (nanti), saya masih akan berjalan santai. Terus menulis, terus
melukis, terus ber-acting. Lagi dan
lagi. Itulah tujuan saya (see??
Bahkan saya sudah sampai tujuan saya). Karena inilah idealisme menurut nurani
saya, yaitu hasrat untuk berseni! Inilah jalan saya.
Tanpa memperdulikan akan “jadi apa” saya kelak (bahkan saya rela disebut
PENGACARA alias PENGANGGURAN BANYAK ACARA), saya akan terus berjalan disini.
Karena saya menikmati perjalanannya!
Saya bukan seorang penulis, pelukis, atau bahkan pemain teater. Saya hanya
menulis, melukis, dan memainkan sebuah peran diatas panggung. Terkadang saya
bermusik, tapi saya bukan musisi. Sekali lagi, saya bukan penulis, pelukis,
pemain teater atau musisi! Tetapi jika kelak predikat-predikat itu melekat pada
saya, maka itu hanyalah sekedar efek-samping dari apa yang saya geluti.
Bagi mereka (kaum yang men-dewa-kan latar belakang pendidikan dan status
sosial) teruslah kejar kesempurnaan hidup kalian yang belum terlihat itu. Saya
tidak akan mengganggu apalagi menyalahi. Dan kami (penganut idealisme nurani),
kami akan terus mengikuti hati nurani kami, tak perlu berkejaran, tapi sampai
tujuan. Dan yang lebih penting, perjalanan kami sudah sangat sempurna dibanding
kesempurnaan hidup kalian.
Bagaimana dengan anda? Ikut mereka atau ikut kami? Pilihlah jalan anda atau
buatlah jalan sendiri!
Selamat menempuh perjalanan selajutnya kawan.
Minggu, 02 September 2012
Mirasih
Mirasih kecil melihat
sendiri buku tulisnya melayang di udara
Mendarat tepat di kakinya
yang tidak bersepatu
Hatinya gemetar
diperlakukan bagai anjing sirkus
Kemiskinan menjadikannya
bagai berak yang bahkan najis untuk di injak
Gedung megah tempatnya
menggantungkan sejuta harapan telah diisi oleh demit-demit penghianat masa
depan
Setiap pagi Mirasih kecil
berlari mengejar waktu
untuk menerobos gerbang
sekolahnya
Pekerjaan rumah yang
tidak selesai menjadi alasan si Jangkung melempar lagi buku tulis Mirasih pagi
ini
Dan lalu ia berkata :
“Pemalas! Kau lihat buku
tulismu yang tipis ini! Sama seperti otakmu yang tipis!”
Mirasih menitikan air
mata
Dipungutnya buku tulis
itu
“Ini buku tulis bekas
saya, Pak. Saat saya duduk di kelas lima, buku ini tidak habis saya gunakan.
Masih kosong setengah halaman. Lalu saya merobek halaman-halaman depan yang
sudah terisi, agar buku tulis ini bisa saya gunakan lagi. Ibu saya tidak
sanggup membelikan buku tulis yang baru. Bapak tidak perlu khawatir,
halaman-halaman berisi catatan pelajaran yang saya robek tidak serta-merta saya
buang. Itu saya simpan untuk belajar sewaktu-waktu.”
Lalu riuh tawa dari seisi
kelas
Mirasih celingukan :
Rupanya dunia sudah
kekurangan cerita humor
Dan samar-samar Mirasih mendengar
si Jangkung mengumpat pelan “dasar miskin!”
Lagi-lagi Mirasih hanya
bisa gemetar
Berak yang najis untuk di
injak, bahkan kini asik dibuat mainan oleh si Jangkung berijasah S1
Pelayanan gratis macam
apa yang disediakan oleh negara ini untuk rakyatnya yang miskin?
Atas dasar apa mereka
membantu Mirasih?
Atas dasar kemanusiaan
yang meningkatkan citra positif
Atas dasar kemanusiaan
dengan imbalan nilai ekonomi
Atas dasar kemanusiaan
sebagai katrol keberhasilan kampanye politik
Atas dasar kemanusiaan yang
tidak manusiawi
Kini Mirasih telah dewasa
Kecerdasaannya pun luar
biasa
Sampai disuatu pagi, di
ruang yang sunyi
Teriak Mirasih
menggelegar
“Ulangi skripsimu!! Kau
tau? Kurikulum itu bukan belajar dan mengajar! Kurikulum itu majikan! Sama
seperti aku dan si Jangkung!”
Jakarta, 25 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
