Selasa, 07 Februari 2012

Dini Hari di Stasiun Gambir (part1)


Empat pasang kaki melangkah di hadapanku. Masing-masing membawa beban dipunggungnya. Mungkin Advance, Eiger, Alpina atau Cibaduyut punya. Semuanya kaum Adam. Usia mereka mungkin tak jauh dariku. Mereka begitu terlihat kusam dengan rambut yang sudah tak tertata dan sedikit berminyak.
Setelah beberapa meter berlalu dari hadapanku, mereka berhenti ditempat duduk yang tersedia di stasiun. Mungkin jaraknya 6 meter dari tempatku duduk saat ini.Mereka menjatuhkan tubuhnya masing-masing pada sandaran kursi tunggu. Sepertinya mereka kelelahan, atau ingin menunggu keberangkatan kereta yang menjadi tujuan mereka. 
Namun argumenku dipatahkan oleh realita yang kulihat. Mereka tidak sedang dilanda kelelahan. Canda riang yang tiba-tiba keluar dari keempat anak Adam ini meyakinkanku bahwa mereka tidak sedang lelah, malah mereka sedang menikmati situasi. Dan sleeping bag yang mereka keluarkan menandakan kalau mereka tidak sedang menunggu keberangkatan salah satu tujuan kereta malam ini. Mereka ingin bermalam disini. Di stasiun Gambir. 
Mereka semua adalah backpacker. Ya, backpacker. Sebutan untuk orang yang hobi berpergian, tapi bukan traveling, ini lebih menantang, seorang backpacker dituntut untuk tidak manja, dengan kata lain mereka harus siap dengan kondisi terburuk sekalipun. Ya contohnya seperti mereka itu, siap tidur disembarang tempat dengan alasan menghemat pengeluaran finansial atau alasan lainnnya.
Aku kembali memperhatikan kawanan backpacker itu sembari terus menuangkannya lewat tulisan dalam laptopku ini. Sesekali salah satu diantaranya –yang membawa carrier merah- menangkap tatapanku yang sedang asik mengamati. Lalu lama kelamaan keempatnya ikut pula memandang kearahku. Mungkin si pengguna carrier merah memberikan kode-kode tertentu pada kawannya yang lain agar menoleh kearahku dengan mengatakan “Liat ke arah jam sembilan, ada cewek cantik sendirian malem-malem maen laptop distasiun.” Haha (intermezo dikit).  
Jadilah aku sedikit salah tingkah karena diperhatikan empat pasang mata yang tidak aku kenal. Tapi aku berusaha untuk tetap terlihat santai dengan melemparkan senyum ramah yang disertai sedikit anggukan kepala kearah mereka. Dan syukurnya, mereka membalas senyumanku. Aku membuang muka kembali ke arah laptop, melajutkan tulisanku ini. 
Melihat sekumpulan backpacker seperti ini membuatku merasa iri, aku juga ingin menjadi salah satu diantara mereka. Mengembala ke tempat-tempat yang tak terduga. Tidur dengan mencium aroma tanah yang basah atau debu yang menyengat sekalipun. Aku ingin merasakan hujan deras ditubuhku yang dibalut ponco atau jas hujan. Aku ingin pakaianku berlemarikan Advance 100 liter. Aku ingin tidur dibungkus sleeping bag. Aku ingin luasnya langit menjadi benda terakhir yang kulihat sebelum aku menjelajah kedunia mimpi. 
Tapi rasanya saat ini itu hanya sebuah angan kosong, aku masih belum mendapat ijin dari bapakku untuk melakukan itu semua. Lagi pula masalah ekonomi menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi tertundanya keinginanku ini. Mana mungkin aku menjadi seorang backpacker dengan ongkos jalan dari orang tua? Itu tabu bagiku. Untuk masalah finansial yang tak ada kaitannya dengan pendidikan aku tak mungkin menengadahkan tangan pada orang tuaku. Pantang buatku. Mau tak mau setidaknya aku harus memiliki pekerjaan sendiri untuk hasilnya nanti dapat membiayai petualanganku. Dan ketika saat itu tiba pun belum tentu aku diijinkan untuk menjadi backpacker oleh bapakku. Aku ini wanita, anak gadis, orang tua mana yang tidak kuatir anak gadisnya menjadi seorang backpacker? Aku rasa tidak ada. Huh. Bersyukurlah kalian kaum Adam.

Ketika pikiran-pikiranku dipenuhi mimpi menjadi seorang backpacker, seorang pemuda berperawakan cukup tinggi dan ideal menyapaku dari samping kanan.
“Hei..”
Aku menoleh dan memperhatikannya untuk beberapa detik. Oh, ternyata pemuda yang tadi. Si empunya carrier merah. Aku tersenyum, namun tidak terlalu ramah. Cepat-cepat aku membuang muka ke arah layar laptopku, berharap pemuda itu segera meninggalkanku sendiri. Tapi aku salah. Dia malah melanjutkan sapaannya dengan sedikit pertanyaan ramah. Dan ini membuatku tidak enak untuk tidak menjawabnya dengan ramah pula.
“Sendiri?” kata pemuda itu.
“Iya” aku menjawab seraya tersenyum. Dan balik mengajukan pertanyaan “Ada apa ya, bang?”
“Ya, gak apa-apa. Heran aja ada cewek sendirian di stasiun. Mau pulang kampung apa gimana nih?”
“Haha.. emang muka gue kayak orang kampung ya bang? Gue iseng doang kok kemari. Nyari inspirasi. Hehe.” Kali ini aku menatapnya, wajahnya kira-kira setipe dengan Raka (gitaris band Vierra), rambutnya pun kurang lebih sama, kalau Raka memang sengaja ditata agar terlihat berantakan, namun pemuda ini memang sepertinya tidak menata rambutnya sehingga sedemikian rupa. Kulitnya sawo matang dan cukup bersih.
“Haha.. bukan gitu juga. Inspirasi apa? Penulis ya? Oia kenalan dulu, gue Abi.” Ucapnya seraya menyodorkan tangan. Akupun meyambutnya dengan jabatan.
“Tata (gue gak pernah nyebutin nama asli ketika berkenalan dengan orang asing), enggak bang.. kok bisa nebak gue penulis?”
“Bukan nebak, tapi atas dasar pengamatan. Noh, lo bukanya word document, udah penuh juga tulisannya.” Jelas pemuda bernama Abi ini seraya menunjuk layar laptopku.
“Hehe iya juga ya.. tapi gue bukan penulis bang. Cuma sedikit suka nulis. Itu pun hal-hal yang gak pernah jelas yang gue tulis.” Aku memaparkan secara jujur.
“Ahh, merendah nih.” Lalu Abi menolehkan wajah kearah kawan-kawannya yang lain ketika salah satu diantaranya memanggil Abi. Entah bicara apa Abi dengan kawannya itu, mereka hanya menggerakan bibir masing-masing. Lalu Abi kembali bicara padaku, “Gabung yukk ama temen-temen gue. Biar lo ada temen ngobrol.” Aku hanya mengangguk, namun belum juga beranjak dari tempat dudukku.
“Iya, bang. Duluan aja.”
“Yee.. gak usah takut gitu kali, kayaknya takut banget.. hehe. Kita bukan penjahat kok, cuma sekumpulan backpacker. Lagian kan ini stasiun rame. Bisa digebukin gue kalo jahatin orang. Hehe. Yuk gabung.” Abi meyakinkan, mungkin karena ia melihat sedikit keraguan yang tampak diwajahku saat Abi mengajakku nimbrung dengan kawan-kawannya yang lain.
“Haha.. Yaudah bang, oke deh.” Kataku mengiyakan ajakannya.

Aku berkenalan dengan ketiga kawan Abi. Mulai dari Aska, Dodi dan Hilman. Aska memiliki raut wajah yang paling terlihat muda dari yang lainnya, badannya juga bisa dibilang kecil untuk ukuran laki-laki. Sedangkan Dodi nampak seperti pemimpin rombongan, karena ia terlihat seperti yang paling dewasa diantara yang lain. Sedangkan Hilman tidak jauh beda dengan Abi secara postur tubuh, namun Hilman berperawakan asia timur. Seperti kokoh-kokoh penjual alat elektronik di Mangga Dua. Hehe.
Aku banyak bercerita dengan mereka, sebaliknya mereka pun demikian. Kadang kami menyelipkan guyonan-guyonan kecil pada cerita-cerita kami. Dan itu membuat suasana menjadi lebih akrab. Ini yang aku suka dari seorang backpacker, mereka selalu ramah pada siapapun. Termasuk orang asing yang baru mereka kenal.
Sembari sedikit demi sedikit aku mengetik tulisan ini, aku terus berbincang bincang dengan keempatnya. Dan semakin kesini pembicaraan semakin asik. Aku tak mau ketinggalan pembicaraan-pembicaraan ini. Jadi, ada baiknya aku berhenti mencatat tulisan ini. Aku akan menceritakan lagi apa yang kami perbincangkan nanti. Oke? Hehe.. to be continue.

Stasiun Gambir, 7 Februari 2012.02.13 WIB

Sabtu, 04 Februari 2012

DARI SEBATANG TEMBAKAU


Ijikan aku bicara sedikit saja
Tentang hidup, tentang cinta

Kantukku belum muncul hingga fajar ini tampak
Tembakauku hanya tinggal sebatang
Entah kenapa beberapa hari belakangan ini aku bersahabat dengan malam
Dengan iringan instrument gitar klasik
Aku bicara pada alam tentang hidup
Bicara pada alam lewat pikiran, khayalan, pertanyaan dan doa yang terus menerus berotasi di otakku
Dan sesekali mampir lewat luwesnya jari menari diatas keyboard komputer jinjingku

Hidup itu pertaruhan
Bisa menang bisa kalah
Tapi jangan berharap menang jika tidak berani mempertaruhkannya
Hidup bicara soal keberanian
Hidup bicara soal aturan
Soal dogma dan norma yang terkait paradigma

Namun saat aku bicara pada semua tentang hidup dan keberanian
Aku bicara padamu tentang cinta
Seperti ibu yang membersihkan berak si bayi
Seperti bapak yang mencuri pakaian jadi untuk makan anak istri
Seperti gadis penjaja buah dada yang hina demi famili

Cinta itu sebilah samurai
Bisa jadi senjata untuk melindungi diri dari lawan
Tak sengaja menusuk kawan
Atau bahkan harakiri

Ya,itulah cinta
Cinta itu sebilah samurai
Sebuah karya seni tinggi dari Penciptanya

Dan aku tak pernah mau hidupku diakhiri oleh sebilah samurai di tanganku
Aku tak mau harakiri
Itu bukan budayaku
Itu tak sesuai dengan dogma yang ku patut
Dan yang lebih penting lagi, aku penakut!
Lebih baik bunuh aku dengan samurai yang ada ditanganmu itu

Aahh,, sudahlah
Bicara hidup tak kan pernah ada habisnya
Bicara cinta apalagi
Sudahlah, sudah
Tembakauku pun sudah habis
                                                                        Jakarta, 3 Februari 2012, 04.58 WIB

Indra Sofian


Aku meneteskan air mata malam ini
Bukan soal cinta
Bukan derita
Dan juga bukan luapan isi keluh kesah
Air mata ini jatuh tanda rindu

Caranya menatap
Caranya berjalan
Caranya bersenda gurau dengan guyonan
Caranya menyemangati
Aku rindu sahabatku
Aku rindu kamu, Ndra

Kau banyak mengajariku
Tapi sama sekali tidak menggurui
Bahwa banyak hal terang yang dapat kita lihat dari sudut hitam
Bahwa getir bisa dijadikan manis
Bahwa sakit bisa dijadikan pemacu
Aku rindu abangku
Aku rindu kamu, Ndra

Kau ingat aku kan, Ndra?
Aku yang dulu sempat jadi gurumu
Oh,bukan, bukan
Lebih tepatnya jadi konsultan dari sedikit masalah hidupmu
Usiamu saat itu 28 tahun, dan aku 19 tahun
Kala itu aku berasa seperti kotbah pada Uztad
Uztad yang ditinggal Uztadzah. Haha

Aku menyematkan beberapa ayat dalam kalimat penjabaranku
Padahal kau sepertinya lebih tahu
Itulah hebatnya kamu, Ndra

Aku rindu teman bicaraku
Aku rindu kamu, Ndra
Aku rindu melihatmu dengan kaos lusuh
Aku rindu duduk dibelakangmu saat kau menunggangi kuda besimu
Aku rindu melihat kamu dengan segala kesederhanaanmu
Aku rindu keberanianmu

Mataku semakin deras mengluapkan airnya
Aku rindu kamu, Ndra
Cepatlah bebas
Berikan aku sedikit pembelajaran hidup lagi


Sumpah, gue gak kuat lagi nulisnya. Gue nangis dengan berlinangan air mata, tapi tanpa suara. Gue kangen lo, Ndra. penjara bukan tempat lo..!!

Hidup Adalah Perbuatan


Hidup adalah perbuatan, dan sampai detik ini aku masih berbuat di kehidupan. Perbuatan-perbuatan yang putih dan kadang hitam. Aku masih hidup. Aku ada dikehidupan. Dan aku berbuat sesuatu. Setiap malam kupandangi layar komputerku, duduk di depannya sungguh terasa sakit dipunggung, tapi aku heran, entah kenapa aku masih saja betah berlama-lama melakukan aktifitas rutin ini. Sembari ditemani sebotol bir dan beberapa batang rokok aku menikmati malamku yang tenggelam seiring bebasnya otak berpikir. Aahh, hidup memang indah kawan. Udara yang ku hirup, angin yang membelai wajahku, musik yang indah ditelingaku, imajinasi yang mampir saat aku meneguk alkohol atau menghisap sebatang rokok, cinta, sakit hati dan tertawa. Ahh, memang sungguh sempurna hidupku.
Dengar kawan, aku sedang bertanya-tanya, adakah hal yang lebih tinggi tingkatannya di banding tingkat kesempurnaan?? Jika ada, tingkat apa itu namanya?? Mengapa dibalik kehidupanku yang sudah aku anggap sempurna ini aku belum puas? Ada hal yang ingin aku capai lagi. Dan itu tinggi, tinggi sekali. 
Aku ingin limbung, aku ingin kepalang senang, aku ingin memuaskan nafsuku, aku ingin menaikan kaki diatas meja kerja, aku ingin menggambar di tembok besar Cina, aku ingin kamu, aku ingin berada disisiNya kelak jika sudah waktunya, dan aku mau semua yang aku mau tiba-tiba terjadi tanpa suatu apa. Haha tolol kan?? Ini hidup, hidup yang adalah perbuatan. Bagaimana semua bisa terjadi kalau tidak dibuat sebabnya?? Tidak mungkin bisa. Ya, inilah hidup, perbuatan. Dan inilah manusia, banyak mau, tapi banyak mengandai. Terlalu banyak alkohol, terlalu banyak rokok, terlalu sering mendengar musik dan menatap layar televisi yang semakin tolol.

Dan postingan ini juga tolol, mening jangan dibaca. Kalo udah terlanjur, ya derita. Gue cuma bisa berdoa, semoga yang baca gak jadi tolol juga nantinya. Haha. Cukup penulis gadungan ini yang tolol. Oke? Sekian, dan terimakasih. Salam nekat! Loh?? Hahaha.

                                                                                    Jakarta, 31 Januari 2012

Langit Tak Lagi Biru


Ceria hanya terpancar diwajahku, tetapi tidak dihatiku
Hujan batu kurasa jatuuh dihatiku, membuat lubang luka yang semakin besar
Tanpa sadar, luka itu kubuat sendiri, semaki perih dan aku tidak berusaha untuk mengobatinya
Ternyata benar apa kata seorang kawan “berharap itu menyakitkan!”
Tapi tak apalah,itu memang resiko seorang pemimpi ulung macam diriku ini

Aku tertawa kecil dalam hati, mengeleng-gelengkan kepala tanda menyadari betapa bodoh diri
Aku mengangkat bendera putih tanda menyerah
Kebodohan tak akan pernah berujung kemenangan
Aku tersenyum kecut pada nuraniku sendiri seraya berkata “sudahilah anganmu itu!”
Tapi dia malah menangis
Jelas itu membuatku mentertawakan lagi kesedihanku

Kini aku memilih untuk memmbohongi dalamnya hati
Dan kebodohan itu secara tidak langsung melukai juga hati seorang laki-laki yang tulus
Aku berdusta padanya karena hatiku masih penuh dengan harapan tentangmu
Sebenarnya aku tak ingin begini
Melukai hati yang tulus mencintai
Tapi aku sudah lelah menghadapi bekunya hatimu
Aku butuh pelampiasan!

Aku terus menentang hujan, tanpa perlindungan
Dan kau tetap dingin tak perduli
Aku tau sebabnya
Sebab yang harusnya benar-benar aku terima
Tapi aku tidak bisa!

Kau membiarkanku berlari sendiri dibawah guyuran hujan tanpa berbuat apa-apa
Dan aku mengerti
Harus kumaklumi walau awan hitam bernaung jiwa
Semua kuterima
Maafkan aku wahai pengisi hati bermata indah
Maaf

Jakarta, Oktober 2011
For my dear, Rizqy Khawarismi Suwardi

(baru keposting) hehe

Aku Ingin


Aku menarik napas panjang tanda lelah
Aku lelah berpikir
Aku lelah menahan rasa
Aku ingin teriak
Aku ingin berlari
Tapi aku tak punya tenaga barang sedikitpun
Aku terseok seok
Belum sampai tujuan aku sudah muntah
Lunglai rasanya

Hei, kau! Senang kah kau melihatku seperti ini?
Senang??
Aku bukan seorang entertainer
Aku bukan penghibur
Aku bukan penghibur yang bisa kau panggil saat kau butuh hiburan

Jiwaku sedang luka
Sakit!
Alam membawanya terbang tinggi
Dan semakin tinggi semakin sakit aku merasa
Tolong tarik aku dari bawah
Aku sudah tak tahan berada di awang awang
Aku ingin merebahkan diri diatas tanah
Mencium wanginya rumput yang masih basah

Argumen Untuk Diri Sendiri


Gue sadar, ternyata gue ini pecundang. Dari apa yang sebelumnya gue banggain ternyata itu semua salah. Gue pikir gue punya nilai plus yang seenggaknya bikin gue merasa bangga menjadi seorang Ita. Ya, jadi seorang yang bernama ITA JUWITA. Gue mencintai diri gue secara karakterdan sifat, gue suka menjadi Ita, bukan Nirina Zubir, Dian Sastro, atau Angelina Jolie sekalipun. Tapi sekarang, gue dikhianati sama diri gue sendiri. “Lo tuh penghianat, Ta!!” kalimat itu yangselalu keluar dari mulut dan hati gue ketika gue bercermin. Gimana nggak? Rasa bangga gue seketika jatoh gitu aja manakala menyadari bahwa semua yang gue banggain dari diri gue adalah sesuatu yang kosong. Ya, KOSONG.Kenapa gue menyimpulkan hal itu sedemikian rupa? Yap, Sekali lagi, gue baru sadar. Gue baru sadar kalo yang bangga akan diri gue ini ya hanya gue, gak pernah ada yang mandang gue sebagai sisi yang gue banggain. Semua orang (bahkan yang terdekat sekalipun) hanya memberi nilai akan sifat gue yang katanya dibilang supel dan asik. Bahkan banyak yang iri sama gue karena kesupelan dan keluwesan gue dalam bersosialisasi. Lalu kenapa gue sekarang merasa diri gue ini pecundang? Begini, kesadaran gue bahwa gue ini pecundang tidaklah datang begitu saja. Ada alasan, ada alibi dan ada bukti.
Contohnya adalah potongan kecil cerita hidup gue yang nggak menarik sedikitpun. Dimana dalam hubungan asmara dan sejenisnya gue sering kali menjadi pelampiasan bagi para laki-laki yang sudah memiliki ikatan dengan wanita lain. Beberapa laki-laki yang sudah punya pacar atau bahkan punya tunangan ini tiba-tiba hadir di depan muka gue dan berakting layaknya sudah kenal deket sama gue. Kalo kata bahasa gaulnya SKSD alias Sok Kenal Sok Deket. Dan alasan mereka ber-SKSD ria sama gue adalah gak lain gak bukan yaitu karena mereka sedang jenuh dengan wanitanya masing-masing. Lalu alasan ini membuat gue selalu memberi pertanyaan sama pada setiap laki-laki ini, “Trus kenapa larinya ke gue? Jelas-jelas gue begini (dalam arti, jauh dari karakter kebanyakan seorang wanita yang lebih umum menjadi tipikal pasangan yang di idam-idamkan oleh setiap laki-laki), cewek lo jauh lebih cantik, lebih feminim, lebih lembut, lebih bla bla bla dan bla bla bla.” Dan mereka selalu menjawab dengan jawaban yang kurang lebih sama, seperti : “Lo beda, Ta.. gak tau, ada yang menarik aja dari lo.” Atau “Lo tuh asik Ta, beda sama cewek laen. Lo emang gak cantik, tapi menarik.” Wow, kompak sekali mereka menjawab, kayak janjian. Haha
But at list, dari beberapa cowok berpasangan ini akhirnya gue kemakan juga sama omongan salah satu atau salah dua dari mereka-mereka ini. Ada yang gue terima setelah gue nyuruh dia putusin ceweknya dulu, dan ada juga yang gue nekat maen api padahal jelas-jelas si cowok belum putus sama ceweknya. Kasarnya,gue jadi selingkuhan si cowok. Dan saat itu gue ngerasa bangga akan semuanya, karena gue asik dan supel mereka cepet nyaman sama gue, nyambung, dan lain-lain.Dan menyimpulakan, bahwa orang seperti gue ini mudah untuk mendapatkan orang yang gue cinta, bahkan yang sudah berpasanganpun mudah untuk gue rebut. Ternyata gue salah, salah banget. Untuk hubungan yang sedang dilanda kejenuhan, hadirnya orang yang asik, bersahabat, welcome dan supel adalah pencerahan banget. Mereka itu sebenarnya hanya butuh kenyamanan yang mungkin sudah jarang tercipta dengan pasangannya akibat kejenuhan tersebut. Dan ketika kejenuhan mereka sudah terobati, kembalilah gue ditinggal gitu aja. Mereka balik lagi kepada wanitanya, dan gue gak bisa nuntut apa-apa. Karena mereka gampang dan dengan mudahnya membalikan ucapan. Yang awalnya bersikeras kalo gue ini asik banget, beda sama cewek-cewek lain. Dan pada akhirnya mereka bilang, “lo tuh terlalu asik, Ta. Terlalu bebas. Gue suka banget sama lo, tapi untuk kedepannya gue gak yakin. Bukan yang kayak lo yang gue cari”. Lalu gue cuma bisa teriak dalam hati “FUUUUUCCK”dan mengutuk diri sendiri.
Waw, ternyata orang yang asik dan supel umumnya lebih sering dijadikan tempat berteduh saat hujan lebat, bukan dijadikan rumah singgah yang dihias hordeng-hordeng indah serta beberapa vas bunga yang tertata rapi. Bukan tempat yang tepat untuk menaruh benda berharga seperti cinta. Ya, cinta. Benda abstrak yang berharga.
Astaga, sekarang apa yang bisa gue banggain dari lo, Ta?? Apa?? Lo gak lebih dari sekedar pecundang. Apa gue harus merubah karakter yang sudah melekat kuat pada jati diri gue ini agar sedikit lebih dihargai?? Berengsek lo.! Kebodohan lo menghianati gue, Ta!